Seni Tradisional Banjar

Seni Tradisional Banjar
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Seni Tradisional Banjar)

Seni Tradisional Banjar :
1 Seni Tradisional Banjar Tak Berbasis Sastra
1.1 Seni Tari
1.2 Seni Karawitan
1.2.1 Gamelan Banjar
1.3 Lagu Daerah
1.4 Seni Rupa Dwimatra
1.4.1 Seni Anyaman
1.4.2 Seni Lukisan Kaca
1.4.3 Seni Tatah/Ukir
1.4.4 Pencak Silat Kuntau Banjar
1.5 Seni Rupa Trimatra (Rumah Adat)
1.6 Jukung Banjar
1.7 Wayang Banjar
1.8 Mamanda
1.9 Tradisi Bananagaan
2 Seni Tradisonal Banjar Berbasis Sastra (Folklor Banjar)
2.1 Lamut
2.2 Madihin
2.2.1 Etimologi dan definisi
2.2.2 Bentuk fisik
2.2.3 Status Sosial dan Sistim Mata Pencaharian Pamadihinan
2.2.4 Keberadaan Madihin di Luar Daerah Kalsel
2.2.5 Datu Madihin, Pulung Madihin, dan Aruh Madihin
2.3 Peribahasa Banjar Berbentuk Puisi
2.3.1 Etimologi dan Definisi
2.3.2 Simpulan
2.4 Peribahasa Banjar Berbentuk Kalimat
2.5 Pantun Banjar
2.5.1 Etimologi, Definisi, dan Bentuk Fisik
2.5.2 Fungsi Sosial Pantun Banjar
2.5.3 Status Sosial Pamantunan
2.5.4 Datu Pantun, Pulung Pantun, dan Aruh Pantun
2.5.5 Pantun Banjar Masa Kini : Bernasib Buruk
2.6 Syair Banjar

Seni Tradisional Banjar Tak Berbasis Sastra
Suku Banjar mengembangkan seni dan budaya yang cukup lengkap, walaupun pengembangannya belum maksimal, meliputi berbagai bidang seni budaya.

Seni Tari
Seni Tari suku Banjar terbagi menjadi dua, yaitu seni tari yang dikembangkan di lingkungan istana (kraton), dan seni tari yang dikembangkan oleh rakyat. Seni tari kraton ditandai dengan nama “Baksa” yang berasal dari bahasa Jawa (beksan) yang menandakan kehalusan gerak dalam tata tarinya. Tari-tari ini telah ada dari ratusan tahun yang lalu, semenjak zaman hindu, namun gerakan dan busananya telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi dewasa ini. Contohnya, gerakan-gerakan tertentu yang dianggap tidak sesuai dengan adab islam mengalami sedikit perubahan. Baca lebih lanjut

Persaudaraan Suku Banjar dengan Suku Dayak

Persaudaraan Suku Banjar dengan Suku Dayak
Oleh: Marko Mahin

Sejak jaman dahulu telah terjadi hubungan persaudaraan dan ikatan kekeluargaan serta toleransi yang tinggi antara suku Banjar dan suku-suku Dayak.

Perkawinan Sultan Banjar dengan Puteri-puteri Dayak

Dari tradisi lisan suku Dayak Ngaju dapat diketahui, isteri Raja Banjar pertama yang bernama Biang Lawai beretnis Dayak Ngaju. Sedangkan isteri kedua Raja Banjar pertama yang bernama Noorhayati, menurut tradisi lisan Suku Dayak Maanyan, berasal dari etnis mereka. Jadi perempuan Dayaklah yang menurunkan raja-raja Banjar yang pernah ada. Dalam Hikayat Banjar menyebutkan salah satu isteri Raja Banjar ketiga Sultan Hidayatullah juga puteri Dayak, yaitu puteri Khatib Banun, seorang tokoh Dayak Ngaju. Dari rahim putri ini lahir Marhum Panembahan yang kemudian naik tahta dengan gelar Sultan Mustainbillah. Putri Dayak berikutnya adalah isteri Raja Banjar kelima Sultan Inayatullah, yang melahirkan Raja Banjar ketujuh Sultan Agung. Dan Sultan Tamjidillah (putera Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam) juga lahir dari seorang putri Dayak berdarah campuran Cina yaitu Nyai Dawang (c.f. Norpikriadi, dalam Putri Dayak di Tanah Banjar 2006). Baca lebih lanjut

Baayun Maulud

Baayun Maulid (Koleksi Tamanggung Arga Sandipa Batangga Amas)

BAAYUN ANAK
(Tradisi Khas Bubuhan Banjar Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW)
Oleh: TumanggungArga Sandipa BatanggaAmas (Komunitas Pemerhati Adat dan Budaya Indonesia)

Baayun anak adalah tradisi ibu-ibu masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Mereka menidurkan anak bayinya dengan cara mengayun-ayunkannya. Tradisi ini telah berlangsung sejak zaman dahulu sampai sekarang. Ayunan itu terbuat dari tapih bahalai atau kain kuning dengan ujung-ujungnya diikat dengan tali haduk (ijuk). Ayunan ini biasanya digantungkan pada penyangga plapon di ruang tengah rumah. Pada tali tersebut biasanya diikatkan Yasin, daun jariangau, kacang parang, katupat guntur, dengan maksud dan tujuan sebagai penangkal jin (mahluk halus) atau penyakit yang mengganggu bayi. Posisi bayi yang diayun ada yang dibaringkan dan ada pula posisi duduk dengan istilah “dipukung”. Baca lebih lanjut

SENI TARI DAYAK

SENI TARI DAYAK
Oleh: Tumanggung Sandipa
(Admin Grup FB: BUBUHAN KULAAN URANG ALAI BORNEO)

KoleksiFoto TumanggungArga Sandipa BatanggaAmas "Mentawai Tribe"

Dalam seni tari Dayak, dikenal beragam tari Dayak dengan gerakan yang eksotik dan memukau. Lewat gerakan para penari Dayak yang biasanya diiringi dengan tetabuhan yang khas, unsur ritmis yang berpadu serasi menjadi sebuah seni penuh makna. Jenis-jenis tari Dayak yang cukup sering ditampilkan di depan umum,di antaranya:

1. Tari Gantar
Tarian ini menggambarkan orang menanam padi. Tongkat menggambarkan kayu penumbuk sedangkan bambu serta biji-bijian di dalamnya menggambarkan benih pada dan wadahnya. Tarian ini cukup terkenal dan sering disajikan dalam penyambutan tamu dan acara-acara lainnya. Tarian ini tidak hanya dikenal oleh suku Dayak Tunjung namun juga dikenal oleh suku Dayak Benuaq. Tarian ini dapat dibagi dalam tiga versi yaitu tari Gantar Rayatn, Gantar Busai dan Gantar Senak/Gantar Kusak. Baca lebih lanjut

ARTI DAN MAKNA TATO BAGI MASYARAKAT DAYAK DI KALIMANTAN

ARTI DAN MAKNA TATO BAGI MASYARAKAT DAYAK DI KALIMANTAN
Oleh: Tumanggung Sandipa
(Admin Grup FB: BUBUHAN KULAAN URANG ALAI BORNEO)

Tato (Koleksi Tumanggung Arga Sandipa Batangga Amas)

Tato bagi masyarakat Dayak merupakan bagian dari tradisi, religi, status sosial seseorang dalam masyarakat, serta bisa pula sebagai bentuk penghargaan suku terhadap kemampuan seseorang. Karena itu, tato tidak bisa dibuat sembarangan. Ada aturan-aturan tertentu dalam pembuatan tato atau parung, baik pilihan gambarnya, struktur sosial orang yang ditato maupun penempatan tatonya. Bahkan yang membuat tato itupun bukan sembarang orang.

Meski demikian, secara religi tato memiliki makna sama dalam masyarakat Dayak, yakni sebagai “obor” dalam perjalanan seseorang dalam menuju alam keabadian, setelah kematian. Karena itu, semakin banyak tato, “obor” akan semakin terang dan jalan menuju alam keabadian semakin lapang. Meski demikian, tetap saja pembuatan tato tidak bisa dibuat sebanyak-banyaknya secara sembarangan, karena harus mematuhi aturan-aturan adat. Baca lebih lanjut

IDENTITAS DAYAK: SIAPAKAH DAYAK?

IDENTITAS DAYAK: SIAPAKAH DAYAK?
Oleh: Tumanggung Sandipa
(Admin Grup FB: BUBUHAN KULAAN URANG ALAI BORNEO)

Sampe'

Dayak bukanlah sebuah realitas objektif yang kuno, melainkan sebuah konstruksi yang relatif modern. Kalangan ilmiawan, para antropolog telah memberikan kontribusi yang bearti dalam pembentukan identitas Dayak, baik pada masa kolonial maupun pascakolonial.

Dayak mempunyai sekitar 450 subsuku yang tersebar di seluruh Kalimantan. Ada banyak versi tentang kelompok-kelompok suku tersebut. Menurut Riwut (1958), bahwa orang Dayak terdiri dari 12 suku dan setiap sukunya terdiri dari tujuh subsuku, seperti: Baca lebih lanjut

DAUR HIDUP ORANG BUKIT


DAUR HIDUP ORANG BUKIT
(Deskripsi Siklus Upacara-upacara Ritual Kehidupan)
Oleh: Rusdi Effendi (Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah, FKIP Unlam Banjarmasin)

Abstrak: Orang Bukit adalah salah satu etnik yang memiliki tradisi adat-istiadat tersendiri di samping etnik asli dan pendatang lainnya mendiami wilayah Kalimantan Selatan. Orang Bukit memilih lingkungan tempat tinggal di daerah pegunungan berhutan, terikat dengan lading dan pertanian berikut religi asli “Balian” atau religi “Huma”. Dengan tempat tinggal yang jauh dari pusat perkotaan Orang Bukit hidup secara turun-temurun mewarisi tradisi lama dan mempertahankan upacara-upacara ritual – serimonial – magis sejak masa kehamilan, melahirkan, dewasa, kawin-mawin, hingga masa kematian. Semua siklus lingkaran upacara kehidupan tersebut dinamakan dengan “Daur Hidup”. Upacara Daur Hidup Orang Bukit berakar pada religi Balian dan dipimpin oleh tokoh religius dan tokoh adat.

Kata kunci: Orang Bukit, upacara, Daur Hidup, Kalsel. Baca lebih lanjut