TENTANG DAYAK MERATUS: Warisan Tanpa Pewaris

TENTANG DAYAK MERATUS:
Warisan Tanpa Pewaris
Oleh: Rusmanadi

*) Tulisan ini pernah di muat di Tabloid Urbana Edisi Maret 2010 dan di posting oleh berbagai media on line nasional setelah di tayangkan oleh Perum LKBN Antara pada 19 Agustus 2010

Secara bergantian, empat orang lelaki Dayak Meratus, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan itu mengayunkan tongkat bambu panjang di tangan kanan mereka. Ayunannya bergerak naik turun dengan irama teratur dan konstan, membuat ujung bambu yang di bentuk sedemikian rupa itu mengeluarkan nada-nada indah.

Saat seorang dari mereka berpindah posisi, yang lain segera menggantikannya. Begitu pula dengan posisi bambu yang kadang diayunkan dengan tangan kanan, terkadang dengan tangan kiri.

Ayunan-ayunan tongkat bambu yang berfungsi layaknya alat musik itu, membentuk sebuah lubang kecil pada tanah ketika pangkalnya dihentakkan. Begitu lubang terbentuk, dengan cekatan kaum wanita memasukkan benih padi ke dalamnya. Baca lebih lanjut

TENTANG DAYAK MERATUS: Ritual Untuk Kesejahteraan

TENTANG DAYAK MERATUS
Ritual Untuk Kesejahteraan
Oleh: Rasta Albanjari

*) Tulisan ini di posting berbagai media on line nasional setelah ditayangkan oleh Perum LKBN Antara pada 28 Oktober 2010

Foto by Rasta. Balian: rohaniawan agama kepercayaan Kaharingan memberikan berkat kepada para Umbun yang mengadakan Aruh

Malam semakin larut di Desa Hinas Kanan, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan. Tengah malam di desa yang berjarak lebih dari 35 Km Kota Barabai, ibu kota HST itu biasanya sunyi senyap.

Namun malam itu berbeda. Suara katipung (gendang) dan keramaian sayup-sayup terdengar dari Balai Panyatnyan Agung Mula Adat yang berada di tengah-tengah desa.

Semakin malam, irama katipung semakin rancak. Ditingkahi suara seorang Balian (tokoh agama kepercayaan Kaharingan) yang terus bamamang (membaca mantera). Mantra yang di kumandangkan serta aroma dupa yang di bakar, merambati hutan dan pegunungan Meratus, membuat malam berselimutkan nuansa magis. Baca lebih lanjut

Totok Bakakak

Totok Bakakak (kode) yang umum dimengerti Sukubangsa Dayak

ENJONG (Dayak Kaltim)

1. Mengirim tombak yang telah di ikat rotan merah (telah dijernang) berarti menyatakan perang, dalam bahasa Dayak Ngaju “Asang”.
2. Mengirim sirih dan pinang berarti si pengirim hendak melamar salah seorang gadis yang ada dalam rumah yang dikirimi sirih dan pinang.
3. Mengirim seligi (salugi) berarti mohon bantuan, kampung dalam bahaya.
4. Mengirim tombak bunu (tombak yang mata tombaknya diberi kapur) berarti mohon bantuan sebesar mungkin karena bila tidak, seluruh suku akan mendapat bahaya.
5. Mengirim Abu, berarti ada rumah terbakar.
6. Mengirim air dalam seruas bambu berarti ada keluarga yang telah mati tenggelam, harap lekas datang. Bila ada sanak keluarga yang meninggal karena tenggelam, pada saat mengabarkan berita duka kepada sanak keluarga, nama korban tidak disebutkan.
7. Mengirim cawat yang dibakar ujungnya berarti salah seorang anggota keluarga yang telah tua meninggal dunia.
8. Mengirim telor ayam, artinya ada orang datang dari jauh untuk menjual belanga, tempayan tajau.
9. Daun sawang/jenjuang yang digaris (Cacak Burung) dan digantung di depan rumah, hal ini menunjukan bahwa dilarang naik/memasuki rumah tersebut karena adanya pantangan adat.
10. Bila ditemukan pohon buah-buahan seperti misalnya langsat, rambutan, dsb, didekat batangnya ditemukan seligi dan digaris dengan kapur, berarti dilarang mengambil atau memetik buah yang ada dipohon itu.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak

PATIH AMPAT

PATIH AMPAT
Oleh: Datu Panglima Alai
(Admin Grup FB: BUBUHAN KULAAN URANG ALAI BORNEO)

Waktu zaman karajaan Nagara Dipa, ada ampat ikung patih karajaan nang tarkanal bagalar “Patih Ampat”. Bubuhan nang ba ampat ni marupakan Panglima Karajaan nang paling di andal akan, buhannya rakat banar kamana haja pasti ba ampat, susah sanang ditanggung basamaan. Siapa sabujurnya Patih Ampat nintu?

Nang partama bangaran “Panimba Sagara”, katuju babaju kuning, baisian kasaktian kawa bahinak dalam banyu, sanjata ganggamannya “Naga Runting” urangnya nicis, panampilannya “rapi jali”. Baca lebih lanjut

TAMANGGUNG ARGA SANDIPA BATANGGA AMAS

TAMANGGUNG ARGA SANDIPA BATANGGA AMAS
Oleh: Tumanggung Arga

Ujar bubuhan tatuha urang bukit nang ba’utu (bagana) di Hulu Maratus sana. Waktu jaman Walanda bahari di Hulu Maratus sabalah salatan parnah hidup pajuang buhan bukit nang ngarannya Tamanggung Arga Sandipa Batangga Amas. Sidin nangini, banyak bangat baisi kajian alias sakti madraguna. Dari babarapa kasaktian sidin nangini, ada kajian sidin nang kadada urang baisi. Sidin bisa bapanderan wan buhan binatang nangapa haja, sampai-sampai sidin dikatujui wan buhan binatang nang ada di hutan maratus nitu. Sidin ne kajutu bangat manolongi buhan binatang nang lagi kalaparan, sidin kajutu maobati binatang nang lagi luka, masih banyak lagi kalakuan sidin nang dikatujui wan buhan binatang di sana. Baca lebih lanjut

Putri Banjar di Tanah Dayak

Putri Banjar di Tanah Dayak
Oleh: Dr. Marko Mahin, MA.
Sumber: http://sutantioeka.blogspot.com/


Bangunan berwarna kuning berbentuk rumah adat Banjar itu, memang agak tersembunyi di balik rimbunan pohon karet yang tumbuh subur. Kalau kita bepergian dari Banjarmasin ke Tamiang Layang dan melintasi Desa Jaar, bangunan itu tidak tampak dari jalan raya. Sebuah bangunan sekolah dasar akan menghalangi pandangan kita. Menurut tetuha adat di Desa Jaar, di dalam bangunan berbentuk rumah adat Banjar itu terdapat pusara Putri Mayang Sari. Ia adalah putri Sultan Banjar yang pernah menjadi pemimpin di Tanah Dayak Ma’anyan. Karena itu bagi orang Dayak Maanyan, bangunan unik itu mempunyai arti dan makna tersendiri.

Tulisan ini bertujuan memaparkan hubungan antara Urang Banjar dan Urang Ma’anyan yang bersumber dari tradisi lisan. Dalam mengumpulkan data untuk bahan tulisan ini, saya (Pdt. DR. Marko Mahin, MA.) dibantu Pdt.Hadi Saputra Miter, S.Th putra Dayak Ma’anyan asal Tamiang Layang, alumnus STT-GKE Banjarmasin.
Putri Mayang Sari Menurut sejarah lisan orang Dayak Ma’anyan, Mayang Sari yang adalah putri Sultan Suriansyah yang bergelar Panembahan Batu Habang dari istri keduanya, Noorhayati. Putri Mayang Sari dilahirkan di Keraton Peristirahatan Kayu Tangi pada 13 Juni 1858, yang dalam penanggalan Dayak Ma’anyan disebut Wulan Kasawalas Paras Kajang Mamma’i. Sedangkan Noorhayati sendiri, menurut tradisi lisan orang Dayak Ma’anyan adalah perempuan Ma’anyan cucu dari Labai Lamiah, tokoh mubaligh Suku Dayak Ma’anyan.
Putri Mayang Sari diserahkan oleh Sultan Suriansyah kepada Uria Mapas, pemimpin dari tanah Ma’anyan di wilayah Jaar Sangarasi. Dituturkan, dalam kesalahpahaman Pangeran Suriansyah membunuh saudara Uria Mapas yang bernama Uria Rin’nyan yaitu pemimpin di wilayah Hadiwalang yang sekarang bernama Dayu. Akibatnya, Sultan Suriansyah terkena denda Adat Bali, yaitu selain membayar sejumlah barang adat juga harus menyerahkan anaknya sebagai ganti orang yang dibunuhnya. Baca lebih lanjut

Tradisi Ngayau bagi Suku Dayak di Kalimantan

TRADISI NGAYAU BAGI SUKU DAYAK DI KALIMANTAN
Oleh: TumanggungArga Sandipa BatanggaAmas
(Admin Grup FB: Komunitas Pemerhati Adat dan Budaya Suku Bangsa Indonesia)

Ngayau merupakan tradisi Suku Dayak yang mendiami pulau Kalimantan, baik Dayak yang tinggal di Kalimantan Barat maupun Kalimantan lainnya. Iban dan Kenyah adalah dua dari suku Dayak yang memiliki adat Ngayau. Pada tradisi Ngayau yang sesungguhnya, Ngayau tidak lepas dari korban kepala manusia dari pihak musuh. Citra yang paling populer tentang Kalimantan selama ini adalah yang berkaitan dengan berburu kepala (Ngayau). Karya Bock, The Head Hunters of Borneo yang diterbitkan di Inggris pada tahun 1881 banyak menyumbang terhadap terciptanya citra Dayak sebagai “orang-orang pemburu kepala” (Saunders, 1993:23).

Dalam tradisi orang Dayak Lamandau dan Delang di Kalimantan Tengah, mengayau dari kata “kayau” atau “kayo’; yang artinya mencari. Mengayau artinya mencari kepala, Ngayau adalah orang yang mencari kepala.

Baca lebih lanjut