KESAH DATU ALA

“KESAH DATU ALA”
Oleh: Tumanggung Sandipa Batangga Amas
(Admin FB: BUBUHAN KULAAN URANG ALAI BORNEO)
purnama_bjm@plasa.com

Zaman dahulu kala di Alabio (HSU) pernah hidup dua suami istri. Mereka disebut orang Banjar tamanang (tidak punya anak). Yang suami bernama Ala, pekerjaan beliau ini adalah seorang tabib. Yang isteri bernama Diyang. Sang isteri ini sangat setia membantu sang suami menyediakan ramuan-ramuan dan alat-alat yang digunakan sang suami untuk menyembuhkan orang sakit.

Mereka berdua ini memiliki peliharaan dua ekor burung beo (burung tiung). Dua ekor burung tersebut, kalau Datu Ala lagi menyembuhkan orang, burung beo tersebut selalu memberi tanda: apakah penyakit orang tersebut mampu atau tidak untuk disembuhkan, apakah panyakit orang tersebut mudah atau susah untuk disembuhkan, atau apakah penyakit orang itu lantaran bakteri, virus, kuman, atau lantaran gangguan makhluk gaib. Baca lebih lanjut

Iklan

Apakah Ini Fiksi?

Apakah Ini Fiksi?

Senja itu kelabu
kusibak kembali tirai masa lalu
jendela sejarah
mengais ngais tumpukan peristiwa
di tong sampah subjektifitas
catatan panjang ibu pertiwi
secarik kertas kusam penuh tapak kaki

Ibuku,
Sayang

Di waktu remaja enam abad silam
kau gadis cantik lagi sensual
Si Bunga desa khatulistiwa
penebar harum dari rumah nusantara
dalam keluguan kebodohan
kau selalu gembira riang
bermain bersama indah alam tropis
bermanja pada kekayaan alam
kau cuek akan gaduh suara
pertikaian lantai dan tiang vs atap
komponen penting rumah nusantara

Ibuku,
Malang

Lebihmu adalah magnet
bagi besi penderitaan
dari lirikan mata penuh birahi
bajingan-bajingan luar penuh syahwat
haus kepuasan
mengharap anggur dari cawan cantik
dan molek tubuhmu
servis tiada duanya
mereka berlomba demi bunga desa
perawan tingting
dan playboy Purtugis, Inggris, Belanda,
dan Jepang berjingkrak girang
walau cinta ditolak
militer bertindak
Pengelana Cina, Arab, India
bisa tersenyum tanpa hasrat menodai
Sementara anak-anakmu yang bodoh
tanpa tahu siapa bapaknya
mungkin tanah
mungkin air
ataukah Si duda
waktu kena sihir “devide at empire”

Ibuku,
Kenang

Kawin cerai di bawah tangan
warna hidupmu, goresan cinta terlarang
karena mereka beda marga
Kini, setengah abad lebih kau kembali kepelukan
Pemuda pemuda sekampung
bersenandung lagu baru
kawin cerai ke KUA
menyisakan putra putra ambisius
rakus lagi buta
berebut warisan sisa “tersita”
mulai dari
Si Agamis, dari bapak perjuangan kemerdekaan sulit
Si Nasionalis, dari bapak Orde Lama rumit
Si Manja Beringin dan militer, dari bapak Orde Baru pelit
dan yang baru lahir
Si Bungsu reformasi dari bapak Globalisasi
Sama mengklaim berhak
penuh dan mutlak
atas rumah krisis moneter
di atas sebidang tanah “bantuan” IMF Baca lebih lanjut

PERJUANGAN PENGHULU RASYID BANUA LAWAS

PERJUANGAN PENGHULU RASYID BANUA LAWAS

ISI RIWAYAT SINGKAT

Penghulu artinya Pemimpin Keagamaan (Pimpinan Spritual) bernama Rasyid, ayah beliau bernama Ma’ali dan ibunya bernama Imur dan Kakaknya bernama Andi bin Kulah dan masih satu keturunan dengan Lambung Mangkurat, yaitu berasal dari keturunan Srilangka. Penghulu Rasyid dilahirkan pada tahun 1815 M di Desa Habau Kecamatan Banua Lawas (Kelua), bahkan rumah tempat kelahiran beliau itu dijadikan Makam Kuburan Tuan Guru Haji Arif Habau. Di lain pihak meriwayatkan (versi Haji Mukri Telaga Itar) bahwa Penghulu Rasyid dilahirkan di desa Telaga Itar pada tahun 1815 M.

Penghulu Rasyid sejak kecilnya taat beribadah serta patuh terhadap ajaran agama Islam, selain itu sangat berbakti kepada kedua orang tuanya. Sejak kecil belajar agama kepada orang tuanya. Setelah itu melanjutkan pelajaran kepada beberapa orang tokoh ulama, di antaranya Tuan Guru Haji Bahruddin dan Tuan Guru Haji Abdussamad. Selain itu, beliau belajar ilmu bela diri kepada salah seorang yang belum diketahui namanya.

Baca lebih lanjut