Mitos-Mitos dalam Hikayat Banjar

Kajian mitos sebenarnya telah sangat berkembang di dunia Barat. Malangnya, hal semacam ini tidak terlihat jejaknya dalam dunia ilmu pengetahuan di Indonesia, khususnya dalam bidang humaniora. Jika pun ada, analisis mitos atau sastra lisan yang dilakukan pada umumnya masih terbatas pada usaha mencari nilai-nilai luhur di dalamnya. Nilai-nilai luhur ini dianggap sesuatu yang sakral, sebagai “pusaka” warisan nenek moyang yang perlu dilestarikan dan diaktualisasikan atau dicari relevansinya dengan kehidupan masa kini.

Pengertian mitos disamakan dengan mitologis yang bermakna sifat cerita yang berupa mite. Mite adalah cerita yang dikenal di kalangan masyarakat di daerah tempat asal atau tempat persebaran cerita dengan tokoh-tokoh yang dianggap keramat. Kisah-kisah tokoh yang terkandung dalam mite itu dianggap masyarakat pendukungnya terjadi pada masa purba dan dalam lingkungan alam lain, sedangkan pengaruh daya kekeramatannya dianggap penting dalam kehidupan masyarakat.

Ada beberapa hal menarik setelah saya membaca Hikayat Banjar, yaitu ditemukannya beberapa macam mitos yang sampai saat ini sebagian orang masih mempercayainya. Mitos di sini saya klasifikasikan menjadi 10 macam. Baca lebih lanjut

Nagara Daha, Kerajaan Islam Banjar, dan Keraton Martapura

Lanjutan Banua Hujung Tanah (Nagara Dipa)

Adat Perkawinan Banjar (Adat Kawin Bagajah Gamuling Baular Lulut)

Kemudian Raden Sari Kaburungan dinobatkan menjadi raja. Setahun kemudian raja memindahkan kedudukan negara ke Muara Hulak. Kedudukan baru itu disebut Negara Daha dan sampai sekarang ini tempat itu masih bernama Negara. Di Muara Bahan dibuat sebuah pangkalan (pelabuhan) yang kemudian ramai sekali didatangi para pedagang.

Tidak beberapa lama kemudian menghilanglah secara gaib Putri Kalungsu yang tinggal di Negara Dipa bersama lima ratus orang pengiringnya. Dalam waktu itu pula Lembu Mangkurat meninggal dunia. Sebagai Mangkubumi diangkatlah putera Arya Megatsari yang bernama Arya Taranggana oleh Maharaja Sari Kaburungan, dia adalah seorang yang sangat cerdik lagi bijaksana. Tidak beberapa lama setelah itu, Maharaja Sari Kaburunganpun hilang secara gaib.

Baca lebih lanjut

Banua Hujung Tanah (Nagara Dipa)

Cerita ini berasal dari negeri Keling. Di sana hidup seorang pedagang yang kaya raya bernama saudagar Mangkubumi. Istrinya bernama Siti Rara. Anaknya bernama Empu Jatmika. Setelah Empu Jatmika besar kemudian dia kawin dengan Sari Manguntur. Dari perkawinannya ini Empu Jatmika mendapat dua orang putra, bernama Empu Mandastana dan Lembu Mangkurat.

Saudagar Mangkubumi jatuh sakit ketika kedua cucunya masih remaja. Semua anggota keluarga dititahkan untuk berjaga selama 40 hari, siang dan malam. Saudagar Mangkubumi meminta supaya anak dan cucunya datang menghadap ketika beliau hampir meninggal dunia. Kemudian dia berpesan kepada anaknya Empu Jatmika supaya menjaga seluruh keluarga dengan sebaik-baiknya. Selain itu beliau berpesan agar jangan kikir dan bersikap adil terhadap setiap orang. Hendaklah anaknya menerima dan mendengar setiap permohonan orang yang datang menghadap dengan segera. Itulah kata-kata terakhir dari saudagar Mangkubumi. Baca lebih lanjut