PENGARUH ISLAM DAN JAWA DALAM HIKAYAT BANJAR

Tulisan ini saya ambil dari
http://staff.undip.ac.id/sastra/muzakka/2009/10/21/pengaruh-islam-dan-jawa-dalam-hikayat-banjar/

Untuk melihat tulisan-tulisan beliau yang lain, klik di sini.

PENGARUH ISLAM DAN JAWA DALAM HIKAYAT BANJAR
Oleh: Moh. Muzakka Mussaif
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Abstract
Hikayat Banjar as Banjar historiography is very famous not only in Indonesia but so in the others in the world. The texts and manuscripts was paid attention by some researchers. One of the unique and specification of them looks at Islamic and Javanese influences. The result of research shows that Islamic influence has relation with Islamisation in Banjar and Javanese influences has relation with Javanese kingdom superiority.
Key word : Hikayat, Banjar, Islam, Jawa

1. Pendahuluan
Hikayat Banjar yang sering disebut dengan nama Hikayat Banjar dan Kota Waringin adalah karya sastra sejarah yang berasal dari Kalimantan. Karya itu merupakan karya sastra yang menjadi sumber sejarah atau historiografi untuk penulisan sejarah Banjar. Hikayat Banjar sangat popular hal itu terbukti dengan banyaknya jumlah naskah yang memuat teksnya baik yang tersimpan di Indonesia maupun di luar negeri dan banyaknya pemerhati atau filolog yang meneliti naskah-nskah tersebut baik filolog yang berasal dari Indonesia maupun mancanegara. Baca lebih lanjut

Iklan

Benarkah Hikayat Banjar Dikarang oleh Orang Banjar?

Ini hanyalah sebuah kegamangan dalam hati saya.  Setelah saya cermati cerita yang ada dalam Hikayat Banjar, ada sebuah pertanyaan yang lahir dan sampai saat ini belum terjawab.  Benarkah naskah hikayat ini asli karangan orang Banjar (sastra Banjar) meskipun sekarang diakui sebagai milik orang Banjar? Hal ini didasarkan atas keganjilan-keganjilan muatan luar Banjar dalam naskah hikayat ini, antara lain:

a. Nama-nama tokoh dalam Hikayat Carita Raja Banjar dan Raja Kota Waringin bukan merupakan nama asli atau khas daerah Banjar sekalipun sudah dijelaskan di awal-awal hikayat ini bahwa raja-raja Nagara Dipa, Nagara Daha dan Islam Banjarmasih serta Martapura adalah keturunan raja Majapahit di Jawa setelah migrasi orang Keling Jawa bernama Ampu Jatmaka dan keluarganya. Baca lebih lanjut

Mitos-Mitos dalam Hikayat Banjar

Kajian mitos sebenarnya telah sangat berkembang di dunia Barat. Malangnya, hal semacam ini tidak terlihat jejaknya dalam dunia ilmu pengetahuan di Indonesia, khususnya dalam bidang humaniora. Jika pun ada, analisis mitos atau sastra lisan yang dilakukan pada umumnya masih terbatas pada usaha mencari nilai-nilai luhur di dalamnya. Nilai-nilai luhur ini dianggap sesuatu yang sakral, sebagai “pusaka” warisan nenek moyang yang perlu dilestarikan dan diaktualisasikan atau dicari relevansinya dengan kehidupan masa kini.

Pengertian mitos disamakan dengan mitologis yang bermakna sifat cerita yang berupa mite. Mite adalah cerita yang dikenal di kalangan masyarakat di daerah tempat asal atau tempat persebaran cerita dengan tokoh-tokoh yang dianggap keramat. Kisah-kisah tokoh yang terkandung dalam mite itu dianggap masyarakat pendukungnya terjadi pada masa purba dan dalam lingkungan alam lain, sedangkan pengaruh daya kekeramatannya dianggap penting dalam kehidupan masyarakat.

Ada beberapa hal menarik setelah saya membaca Hikayat Banjar, yaitu ditemukannya beberapa macam mitos yang sampai saat ini sebagian orang masih mempercayainya. Mitos di sini saya klasifikasikan menjadi 10 macam. Baca lebih lanjut

Nagara Daha, Kerajaan Islam Banjar, dan Keraton Martapura

Lanjutan Banua Hujung Tanah (Nagara Dipa)

Adat Perkawinan Banjar (Adat Kawin Bagajah Gamuling Baular Lulut)

Kemudian Raden Sari Kaburungan dinobatkan menjadi raja. Setahun kemudian raja memindahkan kedudukan negara ke Muara Hulak. Kedudukan baru itu disebut Negara Daha dan sampai sekarang ini tempat itu masih bernama Negara. Di Muara Bahan dibuat sebuah pangkalan (pelabuhan) yang kemudian ramai sekali didatangi para pedagang.

Tidak beberapa lama kemudian menghilanglah secara gaib Putri Kalungsu yang tinggal di Negara Dipa bersama lima ratus orang pengiringnya. Dalam waktu itu pula Lembu Mangkurat meninggal dunia. Sebagai Mangkubumi diangkatlah putera Arya Megatsari yang bernama Arya Taranggana oleh Maharaja Sari Kaburungan, dia adalah seorang yang sangat cerdik lagi bijaksana. Tidak beberapa lama setelah itu, Maharaja Sari Kaburunganpun hilang secara gaib.

Baca lebih lanjut

Banua Hujung Tanah (Nagara Dipa)

Cerita ini berasal dari negeri Keling. Di sana hidup seorang pedagang yang kaya raya bernama saudagar Mangkubumi. Istrinya bernama Siti Rara. Anaknya bernama Empu Jatmika. Setelah Empu Jatmika besar kemudian dia kawin dengan Sari Manguntur. Dari perkawinannya ini Empu Jatmika mendapat dua orang putra, bernama Empu Mandastana dan Lembu Mangkurat.

Saudagar Mangkubumi jatuh sakit ketika kedua cucunya masih remaja. Semua anggota keluarga dititahkan untuk berjaga selama 40 hari, siang dan malam. Saudagar Mangkubumi meminta supaya anak dan cucunya datang menghadap ketika beliau hampir meninggal dunia. Kemudian dia berpesan kepada anaknya Empu Jatmika supaya menjaga seluruh keluarga dengan sebaik-baiknya. Selain itu beliau berpesan agar jangan kikir dan bersikap adil terhadap setiap orang. Hendaklah anaknya menerima dan mendengar setiap permohonan orang yang datang menghadap dengan segera. Itulah kata-kata terakhir dari saudagar Mangkubumi. Baca lebih lanjut