Sepenggal Kisah

Sepenggal Kisah
(Memoar Prajabatan 2009)

Kutahu masih ada yang tertinggal di sini,
Ya, di sini di dada ini.
Sepenggal kisah yang terus membuncah
menggetarkan rasa
melumat habis kepingan terdalam sudut hati

Kuceritakan padamu, kasih
saat kau tak bersamaku
cahaya bulan ke-17 Ramadhan membasuh kulit kami
pekatnya asap memenuhi rongga kami
menyeruak di antara jiwa-jiwa yang penat
mendiktekan cerita yang tak tergantikan
bahkan di belahan bumi manapun

Seandainya, kasih
Ada yang bertanya ke mana aku pergi?
Katakan pada mereka, “Aku sedang berjalan
bersama para raksasa yang pemberani,
dengan derap langkah perkasa,
dengan suara-suara membahana”.

Kuberitahukan padamu, kasih
Suara peluit adalah nada-nada cinta,
meski kami bukan anjing pelacak
Teriakan adalah petikan harpa,
meski kami bukan ternak sapi
meski di dada ini terasa ambigu
tapi, di sinilah pengabdian ini bermula

Kasih,
Kutahu masih ada yang tertinggal di sini,
di hati ini, sepenggal cerita
dan kami akan membuatnya prasasti

(Bapelkes Bjb, 09092009)

Iklan

Sekadar Rasa

Sekadar Rasa

Ahh!
Apa yang bisa kau harapkan dari sebentuk hati yang penuh kesalahan ini. Sementara, waktu hanyalah sederetan peristiwa yang terekam, mengendap, sebentar kemudian menguap menghantarkan padatnya asap rokok ini ke udara lamunanku
Atau mungkin,
kau berharap kebijaksanaan lahir dari tiap kesalahan yang terjadi.
Entahlah!

Tidak, ini cuma sekadar perasaan seorang buta
ketika meraba-raba dinding tajmahal yang gemerlap
saat hujan menerpa.
Hanya tempat berteduh
Ya, hanya tempat berteduh
seperti di rumahrumah biasa
Bahkan,
tak ada beda antara tajmahal dengan gubuk-gubuk
kumuh di pinggir sungai ini.

Kelua, 02022010

Memijar dalam Titik Sepi

Memijar dalam Titik Sepi

Aku telah bosan
Hanya merayap-rayap di dinding kamarmu
Seperti cecak, memburu senyum dari sudut ke sudut
Dinding batu dingin beku

Aku lelaki dalam titik sulit
Selalu terlena oleh dongeng cinta
Memilih beku, bukan batu
Ini bukan repertoar Shakespeare
– terlalu indah, dramatis, tapi mungkin –

Mari menari bersama. Kita rayakan dengan arak-arak
yang kupesan langsung dari sorga,
kita setubuhi malam ini dengan hayal
kita luruhkan segala dengan dengus gemuruh
mari kita memijar dalam titik sepi, sembari menjilati
bibir malam yang tak kunjung subuh

ludah-ludahku berhamburan mengucap namamu,
rinduku semakin parau menghitung butiran tasbih
tak sua makna senyummu yang kosong
sumpah serapah mulai berloncatan tak tentu arah
semua muncrat berbaur dengan aroma rokok yang tinggal separuh.

Seekor cecak terus memperhatikan di dinding kamar
dalam titik sulit

Bjm, 140204

Hanya Ingin Membuat Sungai

Hanya Ingin Membuat Sungai

Mungkin sudah ribuan sajak lahir di sini,
Atau sudah ratusan penyair yang telah memprasastikannya,
Mengoyak-ngoyak rimbunan hutan dan mata air yang tak pernah kering. Memanjakan bayang-bayang pucuk pinus yang terus saja melambai dan beberapa anak elang yang berloncatan menuju angkasa
Aku hanya mengajakmu menuruni lembah rindu,
Sambil membuat sungai-sungai untuk mencari makna puisi yang hilang dengan meliuk-liuk menuju danau sepi: di mana tak ada dusta yang perlu didebatkan

Tapi senyummu! lebih suka berkubang di rawa-rawa pengap
Sambil bersenandung mendengungkan syair keruh dengan dengus bugil. Kau berusaha memecahkan batu yang tak pernah tahu arti indah gemericik. Sesekali kau menari telanjang meliuk-liuk di atas altar sambil mereguk air dari gelas-gelas penuh jelaga.

“Percayalah! Aku hanya ingin mengajakmu membuat sungai”

kau tak pernah berhenti menari, mencari
menanti dekapan tangan-tangan renta untuk memburu angkasa
sambil menikmati betapa indahnya pemandangan dari atas awan

“baiklah, kita berhenti di sini”

Mandiangin, 100109

Terperangkap dalam Durasi

Terperangkap dalam Durasi

Kita tak bisa ke mana-mana
Metamorposis hanya untuk anak cucu kita
Langkah kita punya batas tak bebas
Jagung dapat kita perkirakan umurnya

Bahwa,
Semuanya melebur dalam harmeniutika durasi
Lingkaran yang selalu siklus dan kembali
Ada yang terlupa kita baca, bahwa
Kenyataan adalah titik sepi dari segala bentuk usaha
Semua jenuh. Dan akhirnya berubah menjadi gundukan-gundukan sunyi. Baca lebih lanjut

Kita Masih Saja Berdiri di Situ

Kita Masih Saja Berdiri di Situ

Kita masih saja berdiri di situ
Terpaku pada waktu yang tak pernah memahami makna cinta

Segala, mungkin mimpi
Tak mampu membalut rindu
Di kesenyapan dinding waktu yang semakin penuh jelaga
Atau, sesumbar definisi kosong
Yang kupetik lewat dawai-dawai pesimis
Sekedar mencari substansi kebersamaan

(Kau malah mengajakku terbang mengitari
Pinus-pinus tua. Tapi, aku tak punya sayap seperti
capung atau elang)

Kita masih saja berdiri di situ
Terpana pada warna musim yang tak kunjung semi
Hanya untuk meraba sebuah janji yang tak pernah terucap

Kecuali, cobalah kau pahami!
Sebagian bentuk yang sirna: air mata
Kelak akan mendewasakanmu
Dan menyadari bahwa rindu telah memaksaku berloncatan
Meski harus menjadi kodok di kakimu

Aku masih saja berdiri di situ

Berteriak-teriak menggaungkan namamu dengan elegi yang masih tersisa: di antara kayu-kayu ulin yang terus saja beterbangan.

Banjarmasin, 010104

Akar Alam

Akar Alam
(Kota Banyu 1)

Ui…. Kapupurunan
Nangapa pulang nih
Datu Maratus pina basisigan kauyuhan manahani paluh
Sulahnya sasar balicin bakas dilahungi tarus
Rambutnya tabarubut bahamburan
Imbah ditabuk tarus, mancarii kupi panas

(“akar halalang kada pacang kawa sagan sasangga sisigan Maratus nang marista”)

tiwadak banyu, ulin, kayu bangkal wan taligantan
tabalik akarnya kada bahumbayang disipaki galidir wan satum
banyu tu katuju banar bajalanan ka randah
imbah tu baganaan di situ
manggandaki masigit, sakulahan wan rumah

banyu karuh di hujung mangguruh
hijau baubah kuning
sisingut panjang takurihing

ui….ruh ruh datu nang mangganai;
di buah tanah, di banyu, di puhun wan di langit
datu kuning, putih, habang wan hirang
lakasi kaluar, bawa kukuar
sambur
kariyau
tinjakiakan galidir wan satum nang kada tahu supan
kada tahu di basa
buhannya wani mahambur sarang kararawai, mahambur parang, mahanggus pemakan cucumu;
wani banar menarik saliting banua
sambur, kariyau, tinjakiakan: mun kada
jar Nini, “20 tahun lagi kita kada babanua, kadada lagi rumah di buah gunung. Samuaan rata jadi banyu”
samuaan jadi kisah wan garunuman burung anggang sagan anaknya

Kelua, 30 Januari 2004