MELACAK ARSITEKTUR KERATON BANJAR

MELACAK ARSITEKTUR KERATON BANJAR
Bani Noor Muchamad dan Naimatul Aufa
Staff Pengajar Jurusan Arsitektur FT-Universitas Lambung Mangkurat
e-mail: archi_kal@yahoo.com

Gunadi Kasnowihardjo
Kepala Balai Arkeologi Banjarmasin

ABSTRAK
Sebagai kerajaan yang besar, Kerajaan Banjar tentunya memiliki peninggalan arsitektural. Sangat disayangkan hingga saat ini tidak ditemukan serta diketahui dimana lokasi Keraton Banjar dan bagaimana bentuk arsitekturalnya. Sehubungan dengan hal itulah penelitian ini dilaksanakan, dan melalui kolaborasi antara sejarah, arkeologi dan arsitektur, diharapkan dapat menguak tabir yang selama ini belum ada yang mengangkat dan membicarakannya. Diakibatkan minimnya tinggalan arkeologis, upaya melacak arsitektur Keraton Banjar sangat sulit dilaksanakan. Walaupun demikian, upaya masih dapat dilaksanakan melalui berbagai sumber, yaitu; sumber sejarah Kerajaan Negara Daha, sumber sejarah Kotawaringin, sumber sejarah Kerajaan Banjar, dan sumber dari relief candi masa kerajaan Majapahit. Berdasar pendekatan tersebut diperoleh sketsa (bersifat spekulatif) bentuk arsitektural Kraton Banjar.

Kata kunci: kerajaan banjar, keraton banjar, tinggalan arkeologis.

ABSTRACT
As a big kingdom in the era, Kingdom of Banjar of course had its own heritage in architecture. Unfortunately, the exact location of Keraton Banjar has never been found as well as its form. Therefore, through collaboration among local experts in history, archaeology, and architecture it is expected that the research could reveal the whereabouts.Due to limited artifacts, the effort to trace the real Banjarese architecture is almost impossible. However, many other sources such as history of Daha Kingdom, Kotawaringin, and relief on temples from Majapahit era are believed would be useful in order to find this architecture. Based on the approach a speculative sketch has been produced and considered the most possible Banjarese architecture ever.

Keywords: kingdom of banjar, keraton banjar, artifacts.

Silakan DOWNLOAD untuk membaca hasil penelitiannya

Tari Tandik Balian (Balian Bulat)

Tari Tandik Balian

Suku Dayak Warukin (Tabalong-Kalsel) merupakan salah satu subsuku Dayak Maanyan yang memiliki upacara balian bulat. Tradisi balian ini dibuat menjadi sebuah atraksi kesenian yang disebut Tari Tandik Balian.

Sekilas Tentang Dayak Warukin

Orang Dayak Warukin adalah suku Maanyan yang terdapat di desa Warukin dan desa Haus, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.

Pemukiman Dayak Warukin terdapat dalam daerah kantong/enclave yang disekitarnya adalah daerah pemukiman suku Banjar. Hal ini bisa terjadi karena dahulu kala daerah di sekitar lembah sungai Tabalong pada umumnya adalah wilayah tradisonal suku Manyaan, tetapi akhirnya mereka terdesak oleh perkembangan Kerajaan Negara Dipa yang menjadi cikal bakal suku Banjar. Selanjutnya suku Maanyan terkonsentrasi di sebelah barat yaitu di wilayah Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Dan sebagian terdapat di sebelah timur yaitu di Kabupaten Kota baru yang disebut Dayak Samihim.

Dayak Warukin di desa Warukin, Kecamatan Tanta, Tabalong merupakan bagian dari Maanyan Benua Lima. Maanyan Benua Lima merupakan subetnis Maanyan yang terdapat di kecamatan Benua Lima, Barito Timur. Nama asalnya Maanyan Paju Lima. Istilah “benua” berasal dari Bahasa Melayu Banjar.

Upacara adat rukun kematian Kaharingan pada Dayak Warukin disebut mambatur. Istilah ini pada subetnis Maanyan Benua Lima pada umumnya disebut marabia.

Sumber:
1. Hymunk Kaskus Maniac
2. Wikipedia

Kumpai Lalangsatan si Kumpai Maling

Lalangsatan-Kumpai Maling

Ini merupakan sejenis rumput liar yang biasa tumbuh di dekat rumah-rumah kita. Suatu hari saya diberitahu bahwa rumput ini mempunyai khasiat menyembuhkan anak balita yang sedang sakit perut karena masuk angin. Ketika anak saya yang waktu itu berumur kira-kira lebih 1 bulan sakit perut, saya coba meramukannya untuk anak saya. Dengan kekuasaan dan izin Allah, maka anak saya bisa senyum lagi.

Cara penggunaan:
1. Ambil beberapa lembar daunnya (yang bagus ganjil)
2. Remas-remas daun tersebut dengan air kapur sampai hancur (kapurnya jangan banyak)
3. Oleskan di perut anak kita

Ebook Negeri Sambang Lihum Vol.4

TUNGKARAN

Ebook NSL Vol.4 SERIAL UTUH UJAI

Sakit kapala ada tatambanya. Sakit gigi ada ubatnya. Bapanau, kasai wan laus. Bakurap, kasai wan salap. Tapi mun kapala pusang batatarusan, sabuting juwa tatambanya, bawa tatawa! Nah, kaitu pang motto bubuhan Negeri Sambang Lihum ne, “Jangan Marangut, Bawa Takurihing Haja.”

Hari ne, Arba tanggal sablas dua ribu sablas, kami kawa pulang maulah ebook nang kaampat. Judulnya SERIAL UTUH UJAI.

Ulun salaku pambakalnya, maucapakan tarimakasih nang kada baampihan wan kakawanan sunyaan, khususnya bubuhan admin NSL, wan bubuhan kontributur NSL barataan, nang hakun beulah status di halaman FB NSL wan mambarikan samangat nang kada bapagatan wan ulun, sampai ebook ne kaluar pulang.

Kada manutup kamungkinan pang, mun ebook ne sabagiannya marupakan tarjamahan kisah matan banua lain. Masih banyak lagi kisah nang balum dikaluarakan, kena kita ulah ebook vol. 5 pulang.

Pambakal Sambang Lihum

DOWNLOAD

DOWNLOAD Ebook vol.1-4

DARAH SYUHADA TUMPAH MEMBASAHI BUMI SUNGAI MALANG

DARAH SYUHADA TUMPAH MEMBASAHI BUMI SUNGAI MALANG
15 September 1860 (150 Tahun Silam)

Disalin kembali Oleh Adum M. Sahriadi (Pambakal Sambang Lihum)
dari Kisah “PERANG BANJAR”
PENANGKAPAN HAJI ABDULLAH (15 SEPTEMBER 1860)

Judul Asli “De Bandjarmasinse Krijg”
Oleh: W.A. VAN RESS
Alih Bahasa oleh: H.M. SALEH
Bibliotheek MINSEIBU Banjarmasin
(Halaman 293-301)

Sungai di Amuntai dengan jukung-jukung sebagai alat transportasi dulu, tahun 1910

Pada tanggal 15 dan 12 September 1860, pasukan Kolonial Belanda kembali berhasil memasuki Amuntai. Hal ini disebabkan karena keuletan pimpinan pasukan Kolonial Belanda, VAN EMDE dan VERSIJCK. Dengan pasukan 100 orang, berhasil mengadakan hubungan antara RINGKAU KANTAN dengan AMUNTAI melalui suatu daerah yang sangat asing sekali.

Di Tabalong pasukan Kolonial Belanda masih dipimpin oleh EICHELBACH. Di sana sempat terjadi perlawanan dari para pejuang yang mengakibatkan tertundanya rencana untuk melumpuhkan para pejuang oleh pasukan Kolonial Belanda. Namun usaha para pejuang tidak dapat bertahan lama, sebulan kemudian pasukan Kolonial Belanda berhasil melumpuhkan perlawanan para pejuang.

Pada tanggal 14 September 1860, dua orang pimpinan pejuang, yaitu PENGHULU SOELATIF dan DJALALOEDIN jatuh dalam perangkap pasukan Kolonial Belanda, akhirnya ditahan dan diperiksa/diselidiki. Tertangkapnya dua orang pimpinan pejuang tersebut dikarenakan usaha kedua pejuang tersebut untuk menyeludup ke dalam tangsi (benteng) pada malam hari untuk membuat keonaran di dalam tangsi, telah diketahui oleh spion (mata-mata) Belanda dan melaporkannya kepada pimpinan pasukan Kolonial Belanda, VAN OIJEN. Baca lebih lanjut

Keraton Banjar, Siapa yang Pantas Bertahta?

Keraton Banjar, Siapa yang Pantas Bertahta?
Ditulis Oleh: Muhammad Alpiannor
FB: alpi_pang@yahoo.com

Makam Sultan Suriansyah, Kuin-Banjarmasin

24 September 1526 tonggak awal berdirinya Kerajaan Banjar dengan Pangeran Samudera yang seiring keislamannya kemudian bergelar Sultan Suriansyah sebagai raja pertamanya, tanggal ini pulalah kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Banjarmasin.

Hampir 5 Abad peristiwa itu berlalu, bahkan Banjar sebagai sebuah kerajaan telah mampu bertahan sebagai ‘negara’ dengan diperintah silih berganti sultan hingga bertahan lebih dari 3 abad lamanya (1526-1860), runtuh seiring dengan semakin dalamnya cengkeraman penjajah Belanda yang berhasil masuk dari berbagai aspek baik itu perdagangan, kekuatan militer, sampai pada manipulasi-manipulasi adu dombanya dengan memanfaaatkan friksi internal kerajaan banjar saat itu.

Sebagaimana di maklumi, sejarah mencatat salah satu kelemahan dari system monarkhi/dynasty adalah terjadinya konflik internal dalam perebutan kekuasaan antar elit istana sehingga kemudian membuat kerapuhan dalam system pemerintahan sekaligus juga memudahkan pihak ketiga untuk masuk mengambil kesempatan dari konflik horizontal ini. Baca lebih lanjut