SEJARAH KEHIDUPAN DI TANAH BANJAR

SEJARAH KEHIDUPAN DI TANAH BANJAR
Oleh: Tajuddin Noor Ganie, M.Pd.
(Seorang pekerja seni pada Pusat Pengkajian Masalah Sastra Kalimantan Selatan, bergerak di bidang penelitian dan penerbitan karya sastra dan folklor Banjar)

Istilah Tanah Banjar yang dimaksud dalam tulisan ini dibatasi pada daerah-daerah yang termasuk dalam wilayah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Disebut Tanah Banjar, karena daerah-daerah dimaksud dahulunya (1526-1905) merupakan bekas wilayah Kerajaan Banjar, dan mayoritas penduduk yang tinggal di sana disebut etnis Banjar, sehingga daerah ini kemudian ditahbiskan sebagai pusat kebudayaan Banjar.

Sejarah kehidupan di Tanah Banjar sudah dimulai setidak-tidaknya sejak 6-10 tahun SM. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya fosil manusia purba ras Austromelanesia berjenis kelamin wanita (40-60 tahun) di Gua Batu Babi, Gunung Batu Buli, Desa Randu, Kecamatan Muara Uya, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, pada tahun 2000 yl. Hasil penelitian yang dilakukan oleh tim dari Balai Arkeologi Banjarbaru (Dr. Harry Widianto dkk) menunjukkan bahwa fosil manusia purba itu berusia sekitar 6-10 ribu tahun (SKH Banjarmasin Post, 4 Februari 2000). Baca lebih lanjut

Iklan

Hikayat Datu Banua Lima

Rumah Adat Banjar, Bubungan tinggi koleksi M. Atma Prawira

Hikayat Datu Banua Lima (Ringkasan)
Oleh: Datu Panglima Alai_Admin FB Group Bubuhan Kulaan Urang Alai Borneo
(Cerita ini merupakan versi lain, selain Hikayat Banjar Versi JJ. Ras, dan banyak sekali perbedaan terutama pada garis silsilah dan alur cerita)

Sakitar abad ke-5 M berdiri sebuah kerajaan yang merupakan kerajaan permulaan di Kalimantan Selatan, jauh sebelum berdirinya Kerajaan Nagara Dipa. Kerajaan tersebut bernama Kerajaan Tanjungpuri. Bermula berdirinya Kerajaan Tanjungpuri adalah saat kedatangan bubuhan imigran Malayu asal Kerajaan Sriwijaya di pulau sumatera sekitar Tahun 400-500 Masehi. Oleh karena kebudayaan imigran Malayu sudah lebih maju, lalu mereka mendirikan kampung yang lama kelamaan berubah menjadi sebuah kerajaan kecil. Para imigran Malayu tersebut banyak yang melakukan perkawinan dengan panduduk setempat, yakni suku Dayak (Maanyan, Bukit, Ngaju), sehingga Kerajaan Tanjungpuri tersebut, panduduknya terdiri dari orang Malayu dan Dayak. Perpaduan kadua suku tersebut akhirnya nanti menurunkan suku Banjar (Asal muasal suku Banjar). Baca lebih lanjut

Benarkah Hikayat Banjar Dikarang oleh Orang Banjar?

Ini hanyalah sebuah kegamangan dalam hati saya.  Setelah saya cermati cerita yang ada dalam Hikayat Banjar, ada sebuah pertanyaan yang lahir dan sampai saat ini belum terjawab.  Benarkah naskah hikayat ini asli karangan orang Banjar (sastra Banjar) meskipun sekarang diakui sebagai milik orang Banjar? Hal ini didasarkan atas keganjilan-keganjilan muatan luar Banjar dalam naskah hikayat ini, antara lain:

a. Nama-nama tokoh dalam Hikayat Carita Raja Banjar dan Raja Kota Waringin bukan merupakan nama asli atau khas daerah Banjar sekalipun sudah dijelaskan di awal-awal hikayat ini bahwa raja-raja Nagara Dipa, Nagara Daha dan Islam Banjarmasih serta Martapura adalah keturunan raja Majapahit di Jawa setelah migrasi orang Keling Jawa bernama Ampu Jatmaka dan keluarganya. Baca lebih lanjut

Mitos-Mitos dalam Hikayat Banjar

Kajian mitos sebenarnya telah sangat berkembang di dunia Barat. Malangnya, hal semacam ini tidak terlihat jejaknya dalam dunia ilmu pengetahuan di Indonesia, khususnya dalam bidang humaniora. Jika pun ada, analisis mitos atau sastra lisan yang dilakukan pada umumnya masih terbatas pada usaha mencari nilai-nilai luhur di dalamnya. Nilai-nilai luhur ini dianggap sesuatu yang sakral, sebagai “pusaka” warisan nenek moyang yang perlu dilestarikan dan diaktualisasikan atau dicari relevansinya dengan kehidupan masa kini.

Pengertian mitos disamakan dengan mitologis yang bermakna sifat cerita yang berupa mite. Mite adalah cerita yang dikenal di kalangan masyarakat di daerah tempat asal atau tempat persebaran cerita dengan tokoh-tokoh yang dianggap keramat. Kisah-kisah tokoh yang terkandung dalam mite itu dianggap masyarakat pendukungnya terjadi pada masa purba dan dalam lingkungan alam lain, sedangkan pengaruh daya kekeramatannya dianggap penting dalam kehidupan masyarakat.

Ada beberapa hal menarik setelah saya membaca Hikayat Banjar, yaitu ditemukannya beberapa macam mitos yang sampai saat ini sebagian orang masih mempercayainya. Mitos di sini saya klasifikasikan menjadi 10 macam. Baca lebih lanjut