Syair Saraba Ampat

Syair Saraba Ampat
(Datuk Sanggul)

.: hormat dan takjimku

____________________________

Allah jadikan saraba ampat
Syari’at tharikat hakikat makrifat
Menjadi satu di dalam khalwat
Rasa nyamannya tiada tersurat

Huruf ALLAH ampat banyaknya
Alif I’tibar dari zatNya
Lam awal dan akhir
sifat dari asmanya isyarat dari afalNya

Jibril Mikail malaikat mulia
Isyarat sifat Jalal dan Jama
lIzrail Israfil rupa pasangannya
I’tibar sifat Qahar dan Kamal
Baca lebih lanjut

Iklan

Terperangkap dalam Durasi

Terperangkap dalam Durasi

Kita tak bisa ke mana-mana
Metamorposis hanya untuk anak cucu kita
Langkah kita punya batas tak bebas
Jagung dapat kita perkirakan umurnya

Bahwa,
Semuanya melebur dalam harmeniutika durasi
Lingkaran yang selalu siklus dan kembali
Ada yang terlupa kita baca, bahwa
Kenyataan adalah titik sepi dari segala bentuk usaha
Semua jenuh. Dan akhirnya berubah menjadi gundukan-gundukan sunyi. Baca lebih lanjut

Menghikmati Matamu

Menghikmati Matamu

Menghikmati matamu, kubaca
sungai-sungai yang mengalir
membentuk dunia lain, tertutup

siluet kepedihan merayap-rayap
di senyummu – bagai ular
apa yang aku katakan, hanyalah
kertas-kertas putih kosong
tanpa makna

aku tahu,
mengawetkan kejujuran memang sulit dan pahit
tapi, mengawetkan dusta membuat luka

inilah saatnya. Kita belajar meraba
menikmati indah bulan. Untuk
sekedar tahu bahwa
ia tak pernah dusta pada kita
katakanlah!

Banjarmasin, 221203

Elegi pada Sebuah Monolog

Elegi pada Sebuah Monolog

Kalau kamu memang tidak mencintaiku, tak usah ber pura pura cinta, katakan saja. Tapi jika kamu bertanya, apakah aku tersinggung dengan ucapanmu itu? Jelas aku tersinggung, sakit hati, sedih, merana dan bahkan kecewa akan hal itu.
Tapi aku sadar bahwa dunia tidak akan berakhir karena hal-hal itu. Jadi silahkan kau meninggalkanku. Setidaknya aku sangat bangga dan tentunya bahagia karena pernah mencintaimu sepenuh hati. Dan aku bersyukur pernah mendapat cintamu walau hanya pura-pura darimu.

Kau tahu, dirimulah sumber inspirasiku selama ini.

Mudah mudahan suatu hari aku benar benar mendapat cintamu yang sesungguhnya tanpa pura pura lagi dan suatu hari kau akan jadi milikku selamanya.

Banjarmasin, April 2003

Mutasi Sunyi 2

Mutasi Sunyi 2


“Biar sajalah kali ini aku mengecap pendamaian yang lama”

Entahlah, suara yang bagaimana?
menyusup menembus reranting jiwaku
menggetarkan hati dalam gigil tubuh ini
rinding tengkukku, seakan akan ada yang keluar
Setan setan yang telah terbaring dan mendaging
tiba tiba mengelupas, seketika.
Meninggalkan firdausku yang koyak
mereka terbirit meleleh membuat sungai lilin
mengalir ke lembah lembah
tak berhorison

Aku tak tahu, dari sebelah mana
suara itu menampar keberanianku

Rindu mengenduskan petualangan sunyi
Jiwa mengkontempelasikan “jasad tanpa peta” – selama ini
Tiba tiba meruhkan kerinduan pada dinding penuh jelaga
dan rasa malu yang teramat

“Biar sajalah kali ini aku mengecap pendamaian yang lama”
kini – entah kenapa – seluruh sendi tak berurat
betul betul tak paham,
gema azan itu benar-benar telah menamparku
memporak porandakan seluruh keberanian
yang kupertahankan dalam ambigu
mengingatkanku pada silu’et kolase sejarah kusut
hingga menyisakan tetesan bening air mata
di sudut tepian sajadah biru, pemberian bundaku
: yang terakhir
Tak pernah sebelumnya selega ini
mulut terkunci, air mata inilah bahasaku

di kaca kaca mataku, terlirih do’a
“Beri sajalah kali ini aku pendamaian yang lama, dalam sujudku
dan selamanya”

Bjm, 5 April 2003
Sendiri pada sebuah kamar kontrakan
di Banjarmasin