DEMANG LEHMAN

DEMANG LEHMAN

Sumber: FB: Pangeran Hidayatullah

http://www.facebook.com/photo.php?pid=141231&id=100000600241183

Foto Pahlawan Banjar (Demang Lehman)

Kiai Demang Lehman adalah salah seorang panglima perang dalam Perang Banjar. Gelar Kiai Demang merupakan gelar untuk pejabat yang memegang sebuah lalawangan (distrik) di Kesultanan Banjar. Demang Lehman semula merupakan seorang panakawan (ajudan) dari Pangeran Hidayatullah sejak tahun 1857. Demang Lehman lahir di Martapura pada tahun sekitar 1837, mula-mula bernama Idis. Oleh karena kesetiaan dan kecakapannya dan besarnya jasa sebagai panakawan dari Pangeran Hidayatullah , dia diangkat menjadi Kiai sebagai Kepala Distrik Riam Kanan.

Pada awal tahun 1859 Nyai Ratu Komala Sari, permaisuri almarhum Sultan Adam, telah menyerahkan surat kepada Pangeran Hidayat, bahwa kesultanan Banjar diserahkan kepadanya, sesuai dengan surat wasiat Sultan Adam. Selanjutnya Pangeran Hidayat mengadakan rapat-rapat untuk menyusun kekuatan dan memberi bantuan kepada Tumenggung Jalil Kiai Adipati Anom Dinding Raja berupa 20 pucuk senapan. Sementara itu Pangeran Antasari dan Demang Lehman mendapat tugas yang lebih berat yaitu mengerahkan kekuatan dengan menghubungi Tumenggung Surapati dan Pembakal Sulil di daerah Barito, Kiai Langlang dan Haji Buyasin di daerah Tanah Laut. Baca lebih lanjut

Kongres Budaya Banjar II

Kongres Budaya Banjar II

Kongres Budaya Banjar II

Tema : Manahapi Kebudayaan Banjar Gasan Sasangga Banua
Jadwal kegiatan :

Minggu, 4 April :
Baarak Budaya Banjar dan Prosesi Pembukaan
(Depan Mahligai Pancasila sampai ke depan gubernuran)

4 s.d. 7 April :
Pemeran Benda Bersejarah, Seni, Kerajinan, dan Kuliner Banjar
Karasminan Seni dan Budaya (20.00 s.d 23.00)
(Gedung Sultan Suriansyah dan Taman Budaya)

5 s.d. 7 April :
Diskusi Budaya
(Hotel Banjarmasin Internasional)

Rabu, 7 April :
Launching album Lagu Banjar Band Radja
Pentas Opera Van Banjar (Malam Penutupan)
(Gedung Sultan Suriansyah)

Penyelenggara :
Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata
Provinsi Kalimantan Selatan
Tahun 2010

Mengenal Sejarah Keberadaan Dayak Pitap (Kalimantan)

Mengenal Sejarah Keberadaan Dayak Pitap (Kalimantan)

By Haikal Maserani

Suku Dayak yang tersebar di Kalsel terbagi dalam beberapa kelompok besar. Mereka mendiami pegunungan antara lain di wilayah hulu sungai dan daerah yang berbatasan dengan Kalteng. Dari sekian banyak masyarakat Dayak di wilayah Banua Lima, salah satunya adalah Dayak Pitap. Kelompok ini tersebar pada daerah pegunungan di Kecamatan Awayan. Baca lebih lanjut

SEJARAH KEHIDUPAN DI TANAH BANJAR

SEJARAH KEHIDUPAN DI TANAH BANJAR
Oleh: Tajuddin Noor Ganie, M.Pd.
(Seorang pekerja seni pada Pusat Pengkajian Masalah Sastra Kalimantan Selatan, bergerak di bidang penelitian dan penerbitan karya sastra dan folklor Banjar)

Istilah Tanah Banjar yang dimaksud dalam tulisan ini dibatasi pada daerah-daerah yang termasuk dalam wilayah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Disebut Tanah Banjar, karena daerah-daerah dimaksud dahulunya (1526-1905) merupakan bekas wilayah Kerajaan Banjar, dan mayoritas penduduk yang tinggal di sana disebut etnis Banjar, sehingga daerah ini kemudian ditahbiskan sebagai pusat kebudayaan Banjar.

Sejarah kehidupan di Tanah Banjar sudah dimulai setidak-tidaknya sejak 6-10 tahun SM. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya fosil manusia purba ras Austromelanesia berjenis kelamin wanita (40-60 tahun) di Gua Batu Babi, Gunung Batu Buli, Desa Randu, Kecamatan Muara Uya, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, pada tahun 2000 yl. Hasil penelitian yang dilakukan oleh tim dari Balai Arkeologi Banjarbaru (Dr. Harry Widianto dkk) menunjukkan bahwa fosil manusia purba itu berusia sekitar 6-10 ribu tahun (SKH Banjarmasin Post, 4 Februari 2000). Baca lebih lanjut

KESAH DATU ALA

“KESAH DATU ALA”
Oleh: Tumanggung Sandipa Batangga Amas
(Admin FB: BUBUHAN KULAAN URANG ALAI BORNEO)
purnama_bjm@plasa.com

Zaman dahulu kala di Alabio (HSU) pernah hidup dua suami istri. Mereka disebut orang Banjar tamanang (tidak punya anak). Yang suami bernama Ala, pekerjaan beliau ini adalah seorang tabib. Yang isteri bernama Diyang. Sang isteri ini sangat setia membantu sang suami menyediakan ramuan-ramuan dan alat-alat yang digunakan sang suami untuk menyembuhkan orang sakit.

Mereka berdua ini memiliki peliharaan dua ekor burung beo (burung tiung). Dua ekor burung tersebut, kalau Datu Ala lagi menyembuhkan orang, burung beo tersebut selalu memberi tanda: apakah penyakit orang tersebut mampu atau tidak untuk disembuhkan, apakah panyakit orang tersebut mudah atau susah untuk disembuhkan, atau apakah penyakit orang itu lantaran bakteri, virus, kuman, atau lantaran gangguan makhluk gaib. Baca lebih lanjut

Hikayat Datu Banua Lima

Rumah Adat Banjar, Bubungan tinggi koleksi M. Atma Prawira

Hikayat Datu Banua Lima (Ringkasan)
Oleh: Datu Panglima Alai_Admin FB Group Bubuhan Kulaan Urang Alai Borneo
(Cerita ini merupakan versi lain, selain Hikayat Banjar Versi JJ. Ras, dan banyak sekali perbedaan terutama pada garis silsilah dan alur cerita)

Sakitar abad ke-5 M berdiri sebuah kerajaan yang merupakan kerajaan permulaan di Kalimantan Selatan, jauh sebelum berdirinya Kerajaan Nagara Dipa. Kerajaan tersebut bernama Kerajaan Tanjungpuri. Bermula berdirinya Kerajaan Tanjungpuri adalah saat kedatangan bubuhan imigran Malayu asal Kerajaan Sriwijaya di pulau sumatera sekitar Tahun 400-500 Masehi. Oleh karena kebudayaan imigran Malayu sudah lebih maju, lalu mereka mendirikan kampung yang lama kelamaan berubah menjadi sebuah kerajaan kecil. Para imigran Malayu tersebut banyak yang melakukan perkawinan dengan panduduk setempat, yakni suku Dayak (Maanyan, Bukit, Ngaju), sehingga Kerajaan Tanjungpuri tersebut, panduduknya terdiri dari orang Malayu dan Dayak. Perpaduan kadua suku tersebut akhirnya nanti menurunkan suku Banjar (Asal muasal suku Banjar). Baca lebih lanjut

Undang-Undang Sultan Adam (Versi Bahasa Belanda)

SERIE L.
B OR N E O

No. 18

OENDANG OENDANG SOELTAN ADAM (1835)

Van list in 1881 door A.M. Joekes reeds gepubliceede vorsieuedist van Sultan Adam van Bandjarmasin ontring demmissie voor het adatroelit een dear het gewestelijk bestuur gezonden afschrift. Hieronder volgt de teksi, doeh vargezeld van de vertaling van Joekes, dians aanteekeningen, en diens toeliahting, alie te vinden in Indische Gids 1881, II, bls. 119 – 186. De volgondo van de genoemde gegevens is hierender zoo ingericht als voor de gebruikers liet geriefelijkst sehijnt te zullen zijn. De spelling van liet Maleisch is in over eenstemming gobracht met de officieel gevolgde spelling-Van Opliuijsea; ontzien, — De noten zijn van de commissie voor het adatreclit.

I. Tekst en vertaling van het adiet

In het jaar 1251 op Deaderdag den vijftienden dag van de maandal’ anoharam, ‘s morgens te negen ure, heb ik Sultam Adam deze verordening uitgegeven voor al mijne onderdanen opdat hun godsdienst en opdat tussehen hen niet veelvuldige geschillen mogen bestaan – zoomede dat het den reehter gemakkelijk moge worden recht over hen te spreken.
Ik hoop zeer dat al hunne verhondingen door deze mjne verordening geregeld (goed) mogen worden.
Deze verordening bevat de volgende artikelen. Baca lebih lanjut