PERJUMPAAN ISLAM TRADISI DAN DAYAK BAKUMPAI

PERJUMPAAN ISLAM TRADISI DAN DAYAK BAKUMPAI

Sebuah Makalah yang dipaparkan oleh:
Ahmad Syadzali, Staff Pengajar jurusan Teologi dan Filsafat, Fakultas Ushuluddin, IAIN Antasari Banjarmasin. Dipresentasikan dalam annual conference Kajian Islam di Lembang, Bandung, tanggal 26-30 Nopember 2006

Untuk orisinal website, Klik di Sini

Pendahuluan
Discourse tentang Islam dan Dayak secara umum sangat jarang tersentuh oleh para peneliti lokal, nasional ataupun para peneliti asing. Minimnya penelitian atau mungkin justru ketiadaan penelitian telah memberikan andil dalam mengekalkan asumsi tentang Dayak, yang umumnya selalu diidentikkan dengan tradisi pagan ataupun Kristen.

Menyikapi fenomena di atas, perlulah kiranya menguji asumsi tersebut, apakah asumsi di atas masih layak atau tidak ketika digunakan untuk melihat identitas etnik Dayak. Pengujian atas asumsi ini bermanfaat untuk mengklarifikasi atau menjernihkan pemahaman umum tentang Dayak dalam konteks lintas agama maupun lintas budaya. Kiranya dalam konteks ini memang diperlukan adanya redifinisi tentang Dayak yang bebas dari hegemoni definisi yang berbau kolonial, atau jika mungkin kata Dayak itu sendiri perlu ditinggalkan karena ia bukan merupakan simbol identitas yang berakar dari keseluruhan kelompok etnik di Kalimantan. Sebuah kecelakaan sejarah memang, ketika istilah ini terlanjur diterima sebagai representasi identitas.

Berawal dari carut marut terbelahnya identitas inilah, Dayak Islam perlu diperbincangkan sebagai sebuah bagian yang integral dengan ke-Dayakan itu sendiri. Mungkin salah satu yang mewakili perbincangan dari Dayak Islam ini adalah Islam Bakumpai. Baca lebih lanjut

MANDI TAGUH

“MANDI TAGUH”
Oleh: Om’Cing Hariez (Admin FB: Komunitas Pemerhati Adat dan Budaya Indonesia)
Masyarakat Banjar kaya dengan berbagai fenomena dan ritual budaya yang bersifat khas. Salah satu di antaranya adalah ritual mandi taguh atau mandi kebal, yang dilakukan untuk mendapatkan kekebalan tubuh terhadap senjata tajam maupun senjata api.

Dalam tutur sejarah lisan Banjar, tokoh yang terkenal memiliki dan dianggap sebagai ikon dalam ilmu kekebalan tubuh dimaksud adalah Datu Karipis, yang kebal kulitnya, tahan dari senjata tajam maupun senjata api dan dikatakan seperti besi badannya. Datu Karipis berasal dari daerah Muning, Tatakan, Rantau. Oleh masyarakat Muning, dia diyakini sebagai salah seorang murid (murid yang keempat) dari Datu Suban, yang merupakan mahaguru dari para datu di Muning. Baca lebih lanjut