TENTANG DAYAK MERATUS: Warisan Tanpa Pewaris


TENTANG DAYAK MERATUS:
Warisan Tanpa Pewaris
Oleh: Rusmanadi

*) Tulisan ini pernah di muat di Tabloid Urbana Edisi Maret 2010 dan di posting oleh berbagai media on line nasional setelah di tayangkan oleh Perum LKBN Antara pada 19 Agustus 2010

Secara bergantian, empat orang lelaki Dayak Meratus, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan itu mengayunkan tongkat bambu panjang di tangan kanan mereka. Ayunannya bergerak naik turun dengan irama teratur dan konstan, membuat ujung bambu yang di bentuk sedemikian rupa itu mengeluarkan nada-nada indah.

Saat seorang dari mereka berpindah posisi, yang lain segera menggantikannya. Begitu pula dengan posisi bambu yang kadang diayunkan dengan tangan kanan, terkadang dengan tangan kiri.

Ayunan-ayunan tongkat bambu yang berfungsi layaknya alat musik itu, membentuk sebuah lubang kecil pada tanah ketika pangkalnya dihentakkan. Begitu lubang terbentuk, dengan cekatan kaum wanita memasukkan benih padi ke dalamnya.

Itulah kesenian khas masyarakat adat Dayak Meratus yang mengiringi prosesi menanam padi atau biasa di sebut “manugal”. Sebuah prosesi kebudayaan dan tradisi berupa tarian dengan disertai hentakan-hentakan batang bambu yang mampu menghasilkan nada-nada indah itu, merupakan penggiring kegiatan bercocok tanam yang di sebut Bahilai.

Masyarakat adat Dayak Meratus tak memerlukan organ atau biola untuk dapat menciptakan komposisi-komposisi musik yang memikat. Mereka yang dekat dan hidup berdampingan dengan alam, amat pandai beradaptasi dan memanfaatkannya, bahkan dalam urusan bermusik.

Melalui media sebatang bambu yang pada bagian ujungnya di buat sedemikian rupa agar menghasilkan bunyi, bagian pangkalnya difungsikan sebagai alat pembuat lubang pada tanah.

Prosesi itu dilakukan bukan tanpa maksud dan tujuan. Bukan pula sekedar bersenang-senang atau pengusir rasa lelah belaka.

Lebih jauh lagi, padi bagi masyarakat adat Dayak Meratus adalah sesuatu yang suci sedang huma yang di garap adalah ibu pertiwi tempat menggantung harap. Karena itu, proses menanam padi dilakukan dengan keceriaan, kegembiraan dan beribu pengharapan.

Tapi jangan harap menemukan pemandangan indah nan eksotik itu lagi sekarang ini. Datanglah ke kawasan Kecamatan Batang Alai Timur (BAT) misalnya dan bertanyalah kepada pemuda Dayak disana. Tahukah mereka dengan Bahilai? Mohon jangan kecewa bila jawabannya adalah TIDAK TAHU.

Keadaan kini telah berubah. Gempuran ilmu dan teknologi dengan beragam kemudahannya, membuat Facebook mungkin lebih di kenal oleh mereka. Bahilai, kini tinggal sebuah kata yang pernah diucapkan dan kenangan bagi para tetuha masyarakat adat Dayak Meratus di sana.

Menyedihkan memang, ketika sebuah kebudayaan luhur yang luar biasa dan tidak semua orang dapat melakukannya, harus tersingkir dan terkalahkan oleh zaman. Bahilai kini bagi masyarakat adat Dayak Meratus hanyalah sebuah warisan yang ironisnya tidak seorangpun mewarisinya. Miris…

Kondisi itu menimbulkan keprihatinan seorang Mido Basmi, tokoh adat Dayak Meratus di Desa Hinas Kanan, Kecamatan Hantakan.

“Saat ini, budaya dan kesenian adat Dayak Meratus seperti Tari Bagintor, Bakanjar dan Babansai hanya di gelar saat ada Aruh Bawanang atau upacara adat lainnya, yang pelaksanaannya terkadang hanya sekedar simbol ritual adat, tanpa makna,” ujarnya sambil menghela nafas, tercekat.

Paling menyedihkan tentu saja adalah nasib Balihai yang tak lagi di kenal generasi muda Dayak Meratus di sana.

Prihatin akan punahnya budaya dan kesenian itu, mendorong ia membentuk sebuah kelompok seni yang mengajarkan berbagai kesenian dan prosesi adat kepada generasi muda Dayak Meratus.

Namun sayangnya hal itu tak bertahan lama. Bahkan kelompok itu bubar sebelum padi tugalan sempat tercicipi.

Saat mengelola kelompok seni tersebut, pernah ia mencoba meminta bantuan kepada pemerintah daerah setempat untuk pengadaan kostum. Namun permintaan itu tidak pernah ditanggapi meski yang di minta hanya sekedar baju Kabaya (Kebaya), sarung dan Kakamban (selendang) sebagai perlengkapan panggung. Itu saja.

Seiring bubarnya satu-satunya kelompok seni yang pernah ada itu, kini tak ada lagi upaya pelestarian dan pengembangan seni budaya adat Dayak Meratus, hingga di ambang kepunahan.

Koordinator Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Adat (LPMA) Borneo Selatan, Juliade, menganggap hilang dan tidak dikenalnya lagi kesenian serta budaya adat disebabkan dua faktor, yaitu internal dan eksternal.

Faktor internal disebabkan oleh masyarakat adat itu sendiri dan faktor eksternal berupa dukungan dari pemerintah daerah setempat.

“Faktor internal, merupakan sikap dan kepedulian dari generasi muda Dayak Meratus yang kini enggan melestarikan kesenian dan budayanya sendiri,” ujarnya.

Dalam hal ini, kemajuan ilmu dan tekhnologi ikut berperan menjadi salah satu pendorong sikap apatis pada generasi muda Dayak Meratus.

Kemajuan ilmu dan tekhnologi menyebabkan kesenian dan budaya luar serta pengaruh asing sangat mudah masuk untuk kemudian merasuk dalam diri generasi muda Dayak Meratus. Lambat laun, hal itu mempengaruhi generasi muda Dayak Meratus untuk mengikutinya, termasuk gaya hidup.

Andai saja pengaruh asing yang masuk dijadikan penambah pengetahuan, tentu akan lebih arif dan bijaksana.

“Namun yang terjadi adalah, yang diikuti hanya style-nya saja tanpa peduli apakah cocok atau tidak dengan keseharian dan budaya yang ada. Sehingga yang terjadi sekarang ini, bahkan banyak dari mereka yang malu mengaku sebagai orang Dayak,” Juliade menyayangkan.

Peran dan dukungan pemerintah daerah setempat juga dinilai sangat kurang, bila tidak ingin dikatakan tidak ada sama sekali.

Hal itu di perparah oleh lembaga-lembaga yang mengayomi masyarakat adat Dayak lebih berorientasi pada perbaikan ekonomi, taraf hidup, lingkungan dan pengakuan dari masyarakat luar. Bahkan, LPMA Borneo Selatan sendiri dalam hal ini juga memiliki program kerja yang lebih cenderung kearah itu.

Penyebab dari kurangnya konsentrasi program untuk masalah kesenian dan budaya, sedikit banyak dipengaruhi oleh pandangan dan anggapan masyarakat luar terhadap masyarakat adat, dimana mereka seringkali di anggap tertinggal, terkebelakang dan primitif.

Mido Basmipun mengatakan hal serupa. “Akhirnya lembaga dan masyarakat adat, disibukkan oleh upaya serta keinginan untuk membuktikan keberadaan mereka sehingga melupakan urusan lain di luar itu,” ujarnya.

Bagitupula dengan masyarakat adat yang telah terpelajar, mereka lebih terkonsentrasi kepada satu titik masalah hingga nilai budaya dan seni tertinggalkan.

Ada secercah harapan ketika kemudian LPMA Borneo Selatan merencanakan penambahan Divisi baru di tubuh lembaga mereka. Akan di bentuk Divisi khusus untuk menangani masalah kesenian dan budaya adat dengan harapan, Dinas Pendidikan setempat dapat memasukkannya sebagai materi dalam kurikulum Muatan Lokal.

Menyoal masalah itu, Kadisdik setempat, Agung Parnowo mengaku hanya dapat mengakomodir bila memang diprogramkan oleh Dinas Pemuda Olah Raga Seni Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar).

“Dalam kurikulum, kita hanya mengajarkan budaya Indonesia secara global, termasuk budaya masyarakat adat Dayak. Namun bila Disporabudpar bisa memprogramkannya secara khusus, tidak tertutup kemungkinan hal itu bisa dilakukan,” ujarnya menggantung.

Sementara itu, Kepala Disporabudpar setempat, Muhammad Yusuf mengaku saat ini pihaknya tengah melakukan pendataan tentang potensi kekayaan daerah, termasuk seni dan budaya.

“Kita tengah menyusun program pengembangan seni, budaya dan pariwisata daerah yang didalamnya termasuk seni dan budaya masyarakat adat sehingga dapat diketahui kesenian dan budaya apa yang dapat dikembangkan atau perlu penanganan,” ujarnya.

Namun hal itu dapat terwujud bila masyarakat adat setempat ikut berperan serta menginformasikan dan mendukungnya serta turut peduli.

Sekarang, terpulang kepada masyarakat adat Dayak Meratus itu sendiri, adakah sebuah keinginan dalam diri mereka untuk melestarikan adat istiadat, seni dan budaya nenek moyang? Bila memang ada terbersit keinginan itu, harapan kiranya dapat dilambungkan mengingat peluang yang diberikan pihak Disporabudpar HST.

Setidaknya, tak salah bila masyarakat adat menagih janji dikemudian hari. Walaupun untuk sementara ini, pemuda Dayak Meratus nampaknya lebih menikmati jelajah Facebook dibandingkan ikut “batandik” (prosesi adat berupa tarian).

Alhasil, Bahilaipun kini terlupakan.

note: Bahilai juga di kenal oleh masyarakat adat Dayak Meratus di Rantau, Tapin dan Kandangan, HSS (Dayak Loksado) serta Dayak di Balangan dan Tabalong (Dayak Pitap), Dayak Tanah Laut, Tanah Bumbu serta Kota Baru, namun dengan nama yang berbeda.

6 thoughts on “TENTANG DAYAK MERATUS: Warisan Tanpa Pewaris

  1. %hms!!! sungguh miris budya kita sekarang…..aku batawar nah……handak balajar tari”an banjar/dayak//……handak umpat bujur” umpat ma save the banjar cultural heritage

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s