SEJARAH ERAU


SEJARAH ERAU

Jangan Marah Kalau Di Semprot Dengan Air

ERAU adalah salah satu budaya Masyarakat Dayak yang ada di Propinsi Kalimantan Timur. Biasanya acara adat Erau ini diselenggarakan satu tahun sekali di Kabupaten Kutai Kartanegara (Tenggarong). Pada acara ini dihadiri oleh semua Suku Dayak yang ada di Pulau Kalimantan, termasuk Suku Dayak yang berada di wilayah Malaysia (Serawak dan Kucing).

Erau merupakan kegiatan atau acara besar yang banyak mengandung makna yang bersifat sakral, ritual, dan juga bersifat hiburan. Erau tersebut asal katanya dalam bahasa Kutai “EROH” yang artinya ramai, riuh, ribut, suasana yang penuh suka cita. Suasana yang ramai, riuh rendah tersebut dalam arti banyaknya kelompok/orang-orang yang mempunyai hajat untuk ikut pada upacara tersebut.

Berdasarkan cerita rakyat Kutai, di sebuah dusun yang bernama Dusun Jaitan Layar, tinggallah seorang petinggi (Kepala Dusun) bersama istrinya. Kehidupan di dusun tersebut sangat makmur, hasil panen melimpah, rakyat hidup tentram. Hal ini dikarenakan Petinggi dan istrinya memerintah dengan adil dan bijaksana. Tetapi kebahagiaan itu terasa kurang karena sudah puluhan tahun mereka hidup sebagai suami istri, namun Dewa tidak menganugerahkan seorang anakpun kepada mereka.

Suatu malam Petinggi dan istrinya dikejuntukan oleh suara yang gegap gempita, malam yang tadinya gelap gulita berubah menjadi terang benderang. Dengan memberanikan diri Petinggi dan isterinya keluar rumah untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. ALangkah terkejutnya mereka karena di halaman rumahnya dijumpai sebuah Batu Naga Mas yang bercahaya, di dalamnya terdapat seorang bayi berselimuntukan kain berwarna kuning, tangan kananya mengenggam sebutir telur, dan tangan kirinya memegang sebuah Keris Mas yang menjadi kalang kepalanya.

Belum hilang rasa terkejut suami istri itu, entah darimana datangnya terdengar suara gaib. “Bersyukurlah kalian, karena doa kalian untuk mendapatkan anak dikabulkan. Bayi ini adalah keturunan Dewa-Dewa di Kayangan, karenanya jangan disia-siakan. Jangan dipelihara seperti anak manusia biasa dan berilah nama anak ini AJI BATARA AGUNG DEWA SAKTI!”

Waktu terus berlalu tak terasa usia Aji Batara Agung Dewa Sakti sudah lima tahun. Seusia ini sukarlah ia ditahan untuk bermain di dalam rumah saja. Ia ingin bermain-main di halaman, ingin bermain-main di alam bebas dan mandi ke tepian. Sesuai petunjuk Dewata maka Petinggi Jaitan Layar mempersiapkan Upacara TIJAK TANAH dan upacara ERAU mengantar sang anak mandi ketepian untuk pertama kalinya. Empat puluh hari empat puluh malam diadakan Pesta Erau, berbagai adu ketangkasan diperlihatkan silih berganti, makanan dan minuman semua dihidangkan. Gamelan Gajah Perwata siang malam ditabuh membuat suasana bertambah meriah. Seluruh penduduk Dusun Jaitan Layar bersuka cita.

Demikian sekilas riwayat singkat untuk pertama kalinya dilakukan Upacara Erau pada Upacara TIJAK TANAH dan Mandi Ketepian yang dilakukan oleh penduduk Jaitan Layar kepada AJi Batara Agung, dewa sakti yang merupakan cikal bakal keturunan raja-raja Kutai Kartanegara.

Setelah berakhirnya masa Pemerintahan Kerajaan/Kesultanan Kutai Kartanegara yaitu pada tahun 1960 menjadi daerah otonom maka oleh pemerintah daerah Kabupaten Kutai, tradisi Erau tetap dipelihara dan dilestarikan sebagai warisan budaya bangsa. Kini Erau menjadi acara atau kegiatan rutin Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai pesta rakyat dalam rangka memperingati hari jadi Kota Tenggarong sebagai pusat pemerintahan di Kabupaten Kutai Kartanegara.

(Sumber : Bermacam-macam sumber).

Sumber: HALAMAN FB: BAHASA KUTAI

Iklan

2 thoughts on “SEJARAH ERAU

  1. Setau saya budaya msyrkt kutai bukan dayak,emang acara itu byk d isi org2 dayak seperti tari dayak dll,
    mau tw lebeh lengkap klik aja www kutai kartanegara.Com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s