IDENTITAS DAYAK: SIAPAKAH DAYAK?


IDENTITAS DAYAK: SIAPAKAH DAYAK?
Oleh: Tumanggung Sandipa
(Admin Grup FB: BUBUHAN KULAAN URANG ALAI BORNEO)

Sampe'

Dayak bukanlah sebuah realitas objektif yang kuno, melainkan sebuah konstruksi yang relatif modern. Kalangan ilmiawan, para antropolog telah memberikan kontribusi yang bearti dalam pembentukan identitas Dayak, baik pada masa kolonial maupun pascakolonial.

Dayak mempunyai sekitar 450 subsuku yang tersebar di seluruh Kalimantan. Ada banyak versi tentang kelompok-kelompok suku tersebut. Menurut Riwut (1958), bahwa orang Dayak terdiri dari 12 suku dan setiap sukunya terdiri dari tujuh subsuku, seperti:
– Gugus Ngaju terdiri dari empat kelompok yang bernama Ngaju, Maanyan, Lawangan, dan Dusun.
– Gugus Apo Kayan terdiri dari Kenyah, Kayan, Dan Bahau.
– Gugus Klementen terdiri dari Klementen dan Ketung.
– Gugus Murut terdiri dari Idaan/Dusun, Tidung, dan Murut.
– Gugus Punan terdiri dari Basap, Punan dan Ot, dan gugus Ot Danum.

Tiap-tiap kelompok memiliki sejumlah subsuku, contohnya Kenyah mempunyai 24 subsuku, sedangkan Bahau terdiri dari 26 subsuku. Lahajir (1993) berpendapat bahwa pada mulanya semua subsuku tersebut adalah bagian dari kelompok yang sama, tetapi karena proses geografi dan demografi yang berlangsung selama lebih dari 1000 tahun, akhirnya kelompok ini menjadi terpecah-pecah. Masih ada kesamaan-kesamaan yang diakibatkan oleh asal-usul yang sama yaitu dari Propinsi Yunnan.

Istilah “Dayak” secara kolektif menunjuk kepada orang-orang non-Muslim atau non-Melayu yang merupakan penduduk asli Kalimantan pada umumnya (King, 1993). Istilah itu sendiri muncul pada akhir abad 19 dalam konteks pendudukan penguasa kolonial yang mengambil alih kedaulatan suku-suku yang tinggal di daerah-daerah pedalaman Kalimantan (Rousseau, 1990). Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Kalimantan Timur, Dr.August Kaderland (ilmuwan Belanda) adalah orang yang pertama kali mempergunakan istilah “Dayak” dalam pengertian di atas pada tahun 1895.

Arti dari kata “Dayak” itu sendiri masih bisa diperdebatkan. Terdapat beragam penjelasan tentang etimologi istilah ini.Men urut Lindblad (1988:2), kata “Dayak” berasal dari sebuah kata “daya” dari bahasa Kenyah yang bearti hulu (sungai) atau pedalaman. Sementara King (1993:30), lebih jauh menduga-duga bahwa “Dayak” mungkin juga berasal dari kata “aja”, sebuah kata dari bahasa Melayu yang bearti asli atau pribumi. Dia juga yakin bahwa kata itu mungkin berasal dari sebuah istilah dari bahasa Jawa Tengah yang bearti “perilaku yang tak sesuai atau yang tak pada tempatnya”. Berbeda pula menurut Commans (1987:6), bahwa arti yang paling tepat adalah orang yang tinggal di hulu sungai. Dengan ungkapan serupa, Lahajir (1993:4), melaporkan bahwa orang-orang Iban menggunakan istilah “Dayak” dengan arti manusia, sementara orang-orang Tunjung dan Benuaq mengartikannya sebagai hulu sungai. Mereka juga menyatakan bahwa sebagian orang mengklaim bahwa istilah “Dayak” menunjuk pada karakteristik personal tertentu yang diakui oleh orang-orang Kalimantan yaitu kuat, gagah, berani, dan ulet. Selanjutnya Lahajir (1993:3) mencatat bahwa setidaknya ada empat istilah untuk penduduk asli Kalimantan dalam literatur, yaitu : Daya’, Dyak, Daya, dan Dayak.

Penduduk asli itu sendiri pada umumnya tidak mengenal istilah-istilah tersebut, akan tetapi orang-orang di luar lingkup merekalah yang menyebut mereka sebagai “DAYAK”.

Iklan

4 thoughts on “IDENTITAS DAYAK: SIAPAKAH DAYAK?

  1. sepakat dengan pendapat bahwa “Dayak” lebih kepada penyebutan kalangan luar terhadap sekelompok masyarakat yang kaya akan nilai tradisi dan budaya yang eksotis. maka kiranya kerancuan dalam mengeneralisir identitas kami “dayak” dalam satuan makna yang mungkin tidak cukup mampu memberikan penjelasan akan kekayaan khazanah serta nilai budaya “dayak” itu sendiri, adalah suatu pembunuhan akan karakter masyarakat tersebut.
    hal ini telah cukup banyak merasuki pemahaman dan asumsi khalayak akan identitas masyarakat dayak itu sendiri.

    • “dayak” itu merupakan suku Kalimantan yang hidup jauh dari hal-hal yang merusak budaya dayak itu sendiri dan merupakan suku yang paling suka dengan cinta damai, dan satu hal yang perlu di kaji bahwa suku dayak banyak mempunyai nilai sejarah yang harus digali untuk mengembang budaya bangsa indonesia yang kaya akan suku dan bangsa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s