Apakah Ini Fiksi?


Apakah Ini Fiksi?

Senja itu kelabu
kusibak kembali tirai masa lalu
jendela sejarah
mengais ngais tumpukan peristiwa
di tong sampah subjektifitas
catatan panjang ibu pertiwi
secarik kertas kusam penuh tapak kaki

Ibuku,
Sayang

Di waktu remaja enam abad silam
kau gadis cantik lagi sensual
Si Bunga desa khatulistiwa
penebar harum dari rumah nusantara
dalam keluguan kebodohan
kau selalu gembira riang
bermain bersama indah alam tropis
bermanja pada kekayaan alam
kau cuek akan gaduh suara
pertikaian lantai dan tiang vs atap
komponen penting rumah nusantara

Ibuku,
Malang

Lebihmu adalah magnet
bagi besi penderitaan
dari lirikan mata penuh birahi
bajingan-bajingan luar penuh syahwat
haus kepuasan
mengharap anggur dari cawan cantik
dan molek tubuhmu
servis tiada duanya
mereka berlomba demi bunga desa
perawan tingting
dan playboy Purtugis, Inggris, Belanda,
dan Jepang berjingkrak girang
walau cinta ditolak
militer bertindak
Pengelana Cina, Arab, India
bisa tersenyum tanpa hasrat menodai
Sementara anak-anakmu yang bodoh
tanpa tahu siapa bapaknya
mungkin tanah
mungkin air
ataukah Si duda
waktu kena sihir “devide at empire”

Ibuku,
Kenang

Kawin cerai di bawah tangan
warna hidupmu, goresan cinta terlarang
karena mereka beda marga
Kini, setengah abad lebih kau kembali kepelukan
Pemuda pemuda sekampung
bersenandung lagu baru
kawin cerai ke KUA
menyisakan putra putra ambisius
rakus lagi buta
berebut warisan sisa “tersita”
mulai dari
Si Agamis, dari bapak perjuangan kemerdekaan sulit
Si Nasionalis, dari bapak Orde Lama rumit
Si Manja Beringin dan militer, dari bapak Orde Baru pelit
dan yang baru lahir
Si Bungsu reformasi dari bapak Globalisasi
Sama mengklaim berhak
penuh dan mutlak
atas rumah krisis moneter
di atas sebidang tanah “bantuan” IMF

Ibuku,
Jalang

Penyamun manopause sudah dekat atas kejar
demi sebuah usia
namun kemolekan-sensualitasmu
tetap menebar aura birahi penuh janji
Tanpa sadar
Si Durjana koboy Paman Sam
terus melirik dari teropong kapitalisme
dengan mata berbinar syahwat
nafsu birahi pemerkosa

Ibuku,
Ibu Pertiwi

Kecantikan kemolekan sensualitasmu
berharap kami membawa berkah
Fakta menyanggah
Itu sumber penderitaan
tapi mengapa mereka berharap memilikimu
Wahai janda nan janda, menangislah
dan tahan senyummu
Itu perintah kondisi
Jangan mau dibelenggu keterpaksaan
agar anakanakmu
melihat air mata itu
dan sadar akan pentingnya sapu tangan untuk menyeka

Banjarmasin, Juli 2002

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s