Naik Manau (Memanjat Rotan)

Kesenian Naik Manau

Naik Manau merupakan keterampilan yang dimiliki Suku Dayak pedalaman Kalimantan Selatan yaitu menaiki sejenis rotan yang ukurannya cukup besar memiliki banyak duri yang sangat tajam yang disebut Rotan Manau.

Sumber: Hymunk Kaskus Maniac

Tari Tandik Balian (Balian Bulat)

Tari Tandik Balian

Suku Dayak Warukin (Tabalong-Kalsel) merupakan salah satu subsuku Dayak Maanyan yang memiliki upacara balian bulat. Tradisi balian ini dibuat menjadi sebuah atraksi kesenian yang disebut Tari Tandik Balian.

Sekilas Tentang Dayak Warukin

Orang Dayak Warukin adalah suku Maanyan yang terdapat di desa Warukin dan desa Haus, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.

Pemukiman Dayak Warukin terdapat dalam daerah kantong/enclave yang disekitarnya adalah daerah pemukiman suku Banjar. Hal ini bisa terjadi karena dahulu kala daerah di sekitar lembah sungai Tabalong pada umumnya adalah wilayah tradisonal suku Manyaan, tetapi akhirnya mereka terdesak oleh perkembangan Kerajaan Negara Dipa yang menjadi cikal bakal suku Banjar. Selanjutnya suku Maanyan terkonsentrasi di sebelah barat yaitu di wilayah Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Dan sebagian terdapat di sebelah timur yaitu di Kabupaten Kota baru yang disebut Dayak Samihim.

Dayak Warukin di desa Warukin, Kecamatan Tanta, Tabalong merupakan bagian dari Maanyan Benua Lima. Maanyan Benua Lima merupakan subetnis Maanyan yang terdapat di kecamatan Benua Lima, Barito Timur. Nama asalnya Maanyan Paju Lima. Istilah “benua” berasal dari Bahasa Melayu Banjar.

Upacara adat rukun kematian Kaharingan pada Dayak Warukin disebut mambatur. Istilah ini pada subetnis Maanyan Benua Lima pada umumnya disebut marabia.

Sumber:
1. Hymunk Kaskus Maniac
2. Wikipedia

UPACARA TIWAH ADAT DAYAK

Sumber: BANUA DAYAK

Upacara Tiwah atau Tiwah Lale atau Magah Salumpuk liau Uluh Matei ialah upacara sakral terbesar untuk mengantarkan jiwa atau roh manusia yang telah meninggal dunia menuju tempat yang dituju yaitu Lewu Tatau Dia Rumpang Tulang, Rundung Raja Dia Kamalesu Uhate, Lewu Tatau Habaras Bulau, Habusung Hintan, Hakarangan Lamiang atau Lewu Liau yang letaknya di langit ke tujuh.

Perantara dalam upacara ini ialah :
Rawing Tempun Telun, Raja Dohong Bulau atau Mantir Mama Luhing Bungai Raja Malawung Bulau, yang bertempat tinggal di langit ketiga. Dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya Rawing Tempun Telun dibantu oleh Telun dan Hamparung, dengan melalui bermacam-macam rintangan.

Kendaraan yang digunakan oleh Rawing Tempun Telun mengantarkan liau ke Lewu Liau ialah Banama Balai Rabia, Bulau Pulau Tanduh Nyahu Sali Rabia, Manuk Ambun. Perjalanan jauh menuju Lewu Liau meli\ewati empat puluh lapisan embun, melalui sungai-sungai, gunung-gunung, tasik, laut, telaga, jembatan-jembatan yang mungkin saja apabila pelaksanaan tidak sempurna, Salumpuk liau yang diantar menuju alam baka tersesat. Pelaksana di pantai danum kalunen dilakukan oleh Basir dan Balian. Untuk lebih memahami uraian selanjutnya, beberapa istilah perlu diketahui : Baca lebih lanjut

Senjata Suku Dayak

Sipet / Sumpitan

Sipet/Sumpitan

Merupakan senjata utama suku dayak. Bentuknya bulat dan berdiameter 2-3 cm, panjang 1,5 – 2,5 meter, ditengah-tengahnya berlubang dengan diameter lubang ¼ – ¾ cm yang digunakan untuk memasukan anak sumpitan (Damek). Ujung atas ada tombak yang terbuat dari batu gunung yang diikat dengan rotan dan telah di anyam. Anak sumpit disebut damek, dan telep adalah tempat anak sumpitan.

Lonjo / Tombak

Dibuat dari besi dan dipasang atau diikat dengan anyaman rotan dan bertangkai dari bambu atau kayu keras.

Selanjutnya baca di:
http://banuadayak.wordpress.com

TENTANG DAYAK MERATUS: Warisan Tanpa Pewaris

TENTANG DAYAK MERATUS:
Warisan Tanpa Pewaris
Oleh: Rusmanadi

*) Tulisan ini pernah di muat di Tabloid Urbana Edisi Maret 2010 dan di posting oleh berbagai media on line nasional setelah di tayangkan oleh Perum LKBN Antara pada 19 Agustus 2010

Secara bergantian, empat orang lelaki Dayak Meratus, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan itu mengayunkan tongkat bambu panjang di tangan kanan mereka. Ayunannya bergerak naik turun dengan irama teratur dan konstan, membuat ujung bambu yang di bentuk sedemikian rupa itu mengeluarkan nada-nada indah.

Saat seorang dari mereka berpindah posisi, yang lain segera menggantikannya. Begitu pula dengan posisi bambu yang kadang diayunkan dengan tangan kanan, terkadang dengan tangan kiri.

Ayunan-ayunan tongkat bambu yang berfungsi layaknya alat musik itu, membentuk sebuah lubang kecil pada tanah ketika pangkalnya dihentakkan. Begitu lubang terbentuk, dengan cekatan kaum wanita memasukkan benih padi ke dalamnya. Baca lebih lanjut

TENTANG DAYAK MERATUS: Ritual Untuk Kesejahteraan

TENTANG DAYAK MERATUS
Ritual Untuk Kesejahteraan
Oleh: Rasta Albanjari

*) Tulisan ini di posting berbagai media on line nasional setelah ditayangkan oleh Perum LKBN Antara pada 28 Oktober 2010

Foto by Rasta. Balian: rohaniawan agama kepercayaan Kaharingan memberikan berkat kepada para Umbun yang mengadakan Aruh

Malam semakin larut di Desa Hinas Kanan, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan. Tengah malam di desa yang berjarak lebih dari 35 Km Kota Barabai, ibu kota HST itu biasanya sunyi senyap.

Namun malam itu berbeda. Suara katipung (gendang) dan keramaian sayup-sayup terdengar dari Balai Panyatnyan Agung Mula Adat yang berada di tengah-tengah desa.

Semakin malam, irama katipung semakin rancak. Ditingkahi suara seorang Balian (tokoh agama kepercayaan Kaharingan) yang terus bamamang (membaca mantera). Mantra yang di kumandangkan serta aroma dupa yang di bakar, merambati hutan dan pegunungan Meratus, membuat malam berselimutkan nuansa magis. Baca lebih lanjut

Buah Si’it Si Buah Rotan (Paikat)

Siit si buah paikat (Rotan)

Rotan (paikat) adalah sekelompok palma dari puak (tribus) Calameae yang memiliki habitus memanjat, yang biasanya banyak terdapat di hutan-hutan kalimantan. Buahnya bisa dimakan. Bentuknya seperti pada gambar. Rasanya sedikit kecut.

Batang rotan biasanya langsing dengan diameter 2-5cm, beruas-ruas panjang, tidak berongga, dan banyak yang dilindungi oleh duri-duri panjang, keras, dan tajam. Duri ini berfungsi sebagai alat pertahanan diri dari herbivora, sekaligus membantu pemanjatan, karena rotan tidak dilengkapi dengan sulur. Suatu batang rotan dapat mencapai panjang ratusan meter. Batang rotan mengeluarkan air jika ditebas dan dapat digunakan sebagai cara bertahan hidup di alam bebas.

Rotan biasaya dijadikan kerajinan anyam-ayaman oleh suku dayak, bisa juga berfungsi alat ikat pada tiang-tiang rumah suku dayak.