Hikayat Datu Banua Lima


Rumah Adat Banjar, Bubungan tinggi koleksi M. Atma Prawira

Hikayat Datu Banua Lima (Ringkasan)
Oleh: Datu Panglima Alai_Admin FB Group Bubuhan Kulaan Urang Alai Borneo
(Cerita ini merupakan versi lain, selain Hikayat Banjar Versi JJ. Ras, dan banyak sekali perbedaan terutama pada garis silsilah dan alur cerita)

Sakitar abad ke-5 M berdiri sebuah kerajaan yang merupakan kerajaan permulaan di Kalimantan Selatan, jauh sebelum berdirinya Kerajaan Nagara Dipa. Kerajaan tersebut bernama Kerajaan Tanjungpuri. Bermula berdirinya Kerajaan Tanjungpuri adalah saat kedatangan bubuhan imigran Malayu asal Kerajaan Sriwijaya di pulau sumatera sekitar Tahun 400-500 Masehi. Oleh karena kebudayaan imigran Malayu sudah lebih maju, lalu mereka mendirikan kampung yang lama kelamaan berubah menjadi sebuah kerajaan kecil. Para imigran Malayu tersebut banyak yang melakukan perkawinan dengan panduduk setempat, yakni suku Dayak (Maanyan, Bukit, Ngaju), sehingga Kerajaan Tanjungpuri tersebut, panduduknya terdiri dari orang Malayu dan Dayak. Perpaduan kadua suku tersebut akhirnya nanti menurunkan suku Banjar (Asal muasal suku Banjar).

Semantara sekitar 3000-1500 SM untuk pertama kalinya Imigran dari Yunnan di China Selatan datang ke tanah Borneo. Mereka inilah padatuan ‘nenek moyang orang Dayak atau istilahnya “Melayu tua”. Berabad-abad lamanya Kerajaan Tanjungpuri berdiri, penduduknya makmur dan sajahtera, hidup damai serta bahagia. Pada Tahun 1309 M berdiri juga sabuah kerajaan orang Maanyan yang bernama “Nan Sarunai”. Kedua kerajaan ini saling berkeluarga dan berteman dekat, tidak pernah ada permusuhan. Walau berbeda keyakinan, –Kerajaan Tanjungpuri kebanyakan pangikut ajaran Buddha sedangkan Kerajaan Nan Sarunai kebanyakan pengikut ajaran Kaharingan– tapi kedua kerajaan tetap saling menghormati. Kedua kerajaan sama-sama berkomitmen menjaga alam lingkungan, tidak mau menambang batu bara yang banyak terdapat di wilayah kerajaan, apalagi menanam sawit karena pada saat itu tidak ada istilah jual beli tanah dan sawit serta hasil tambang batu bara.

Kerajaan Tanjungpuri mempunyai lima orang Panglima. Yang Partama bergelar Panglima Alai, yang merupakan ahli politik dan strategi. Yang Kedua, Panglima Tabalong, orangnya gagah, kuat, pemberani, dan berjiwa ksatria. Yang Katiga, Panglima Balangan, Orangnya sangat tampan, pintar, dan suka menuntut ilmu, sedangkan yang keampat dan kelima si kembar yang bergelar Panglima Hamandit dan Panglima Tapin. Mereka berdua ini orangnya cepat emosian, keras kepala, dan suka berkelahi. Kelimanya bersaudara ini, anak dari Datu Intingan (Saudaranya Datu Dayuhan Kapala suku Dayak Maratus) dan Dayang Baiduri (Putri Imigran Melayu keturunan Sriwijaya).

Pada saat itu, Kerajaan Majapahit sangat berambisi untuk menguasai Nusantara. Hal itu terjadi karena Maha Patih Gajah Mada sudah termakan sumpah hendak ‘menguasai’ nusantara. Tapi oleh para politikus Majapahit kata ‘menguasai’ diperhalus menjadi ‘mempersatukan’ nusantara. Ada mata-mata Majapahit yang berdalih berdagang ke kotaraja kedua kerajaan tadi, didapatlah informasi bahwa kedua kerajaan tersebut sangat makmur. Istananya saja berlapis emas. Mendengar hal itu, Prabu Hayam Wuruk, Raja Majapahit begitu berambisi untuk menguasai kedua kerajaan tersebut, Kerajaan Tanjungpuri dan Kerajaan Nan Sarunai.

Pada Tahun 1356 Kerajaan Majapahit mengirim ekspedisi militer pertama ke wilayah Borneo. Yang mula-mula diserang adalah Kerajaan Nan Sarunai. Sakitar 5.000 pasukan Majapahit datang dengan kapal melewati Sungai Barito yang dipimpin oleh Senopati Arya Manggala. Melihat pasukan yang sangat banyak tersebut, lalu Kerajaan Nan Sarunai mminta bantuan ke Kerajaan Tanjungpuri. Lalu oleh raja Tanjungpuri dikirim lima orang Panglima tadi dengan membawa 1000 pasukan membantu Kerajaan Nan Sarunai. Setelah itu pecahlah perang yang dahsyat antara pasukan Majapahit melawan pasukan Nan Sarunai yang dibantu pasukan Tanjungpuri. Banyak sekali jatuh korban di kedua belah pihak. Pasukan Majapahit yang terkenal hebat dalam bertempur karena sudah berkeliling Nusantara manaklukan berbagai kerajaan, saat itu mendapat perlawanan yang hebat tak terkira. Banyak tentara Majapahit yang mati di tangan lima panglima Tanjungpuri yang sakti-sakti tersebut. Panglima Alai yang ahli strategi mengatur pasukan, Panglima Tabalong yang gagah mengamuk di barisan paling muka, banyak tentara Majapahit yang terlempar ke udara dilemparkan oleh panglima atau banyak juga yang dilemparkan ke tubuh musuh yang berani mendekat. Sedangkan Panglima Balangan menjadi pimpinan barisan pangawal raja, dengan kesaktiannya mampu melindungi raja dari keroyokan pasukan Majapahit. Semantara Panglima Hamandit dan Panglima Tapin beradu (duel) kesaktian dengan para pendekar Majapahit. Banyak sudah Pendikar Persilatan Majapahit yang merupakan orang-orang bayaran, mati di tangan Panglima Hamandit dan Panglima Tapin. Setelah dua hari bertempur akhirnya pasukan Majapahit mampu dipukul mundur, bahkan Senopati Arya Manggala penggal kepalanya terkena Mandau terbang “Pangkalima Angkin”, Panglima Kerajaan Nan Sarunai yang terkenal sakti. Sisa-sisa pasukan Majapahit lari terbirit-birit menuju kapal untuk pulang ke Jawa.

Di Tanjungpuri setelah peperangan malawan Majapahit banyak infrastruktur kerajaan yang hancur, ladang banyak yang rusak begitu juga pohon karet banyak yang roboh. Pelabuhan kerajaan tidak ramai lagi karena banyak padagang yang takut berlabuh setelah mendengar ada perang. Maka tarjadi “krisis moneter” berkepanjangan di Kerajaan Tanjungpuri. Kelima panglima kerajaan mendapat tanah kekuasaan masing-masing di daerah lima aliran sungai yang berhulu di Pegunungan Maratus sebagai hadiah dari Sri Baginda Darmapala. Daerah lima aliran sungai tersebut akhirnya bernama sesuai gelar lima Panglima Tanjungpuri. Panglima Alai mendapat wilayah yang bernama Batang Alai (sekarang menjadi Kabupaten HST), Panglima Tabalong mendapat wilayah yang bernama Batang Tabalong (sekarang menjadi Kabupaten Tabalong), Panglima Balangan mendapat wilayah yang bernama Batang Balangan (sekarang menjadi Kabupaten Balangan), Panglima Hamandit mandapat wilayah Batang Hamandit (sekarang menjadi Kabupaten HSS), sedangkan Panglima Tapin mandapat wilayah Batang Tapin (sekarang menjadi Kabupaten Tapin).

Ada kisah menarik antara dua Panglima kembar tersebut, yaitu Panglima Hamandit dan Panglima Tapin, yang keduanya sama-sama menghendaki anak Raja Tanjungpuri yang bernama Putri Diang Bulan, sampai-sampai yang mereka berdua bertengkar, tapi karena sama-sama sakti, maka tidak ada yang mampu saling mengalahkan. Akhirnya oleh Putri Diang Bulan, mereka disuruh beradu ba igal (berjoget). Ternyata Panglima Tapin lebih hebat berjoget daripada Panglima Hamandit. Oleh karena itu, orang-orang Tapin banyak yang menguasai kesenian bajapin ‘bagandut.’ Tapi Putri Diang Bulan tidak sampai hati memilih di antara keduanya. Akhirnya Putri Diang Bulan kembali menyuruh mereka untuk beradu pantun ‘baturai pantun’ dan ternyata Panglima Hamandit yang lebih hebat, makanya orang-orang daerah Hamandit banyak menguasai bidang sastra. Karena sama-sama mempunyai kelebihan, Putri Diang Bulan menjadi semakin bingung sendiri. Karena kebigungan, akhirnya Putri Diang Bulan memilih kawin dengan Panglima Alai. Oleh sebab itu, orang-orang Hamandit dan Tapin banyak yang tidak suka dengan orang-orang Alai kalau urusan cinta dan perempuan. Panglima Tabalong dan Panglima Balangan yang mengetahui soal cinta sagi empat di antara saudaranya tersebut lebih memilih netral, tidak memihak ke mana-mana. Datu Dayuhan dan Datu Intingan yang malihat hal tersebut akhirnya cepat turun tangan berusaha untuk mempersatukan persaudaraan mereka. Oleh karena itu, setiap tahun diadakan upacara ‘Aruh Ganal’ di daerah pahuluan sana.

Pada Tahun 1387 atau 29 tahun setelah terjadinya peperangan antara Majapahit dan Tanjungpuri, berdiri sebuah Kerajaan Hindu di Borneo yang bernama Nagaradipa. Kepala pemerintahannya bernama Empu Jatmika, seorang palarian matan Kerajaan Kediri. Karena tingkah lakunya yang baik dan santun, dia disukai oleh Raja Tanjungpuri yang bernama Sri Baginda Kartapala (anak Sri Baginda Darmapala). Oleh Sri Baginda Kartapala, Empu Jatmika ditawari agar anaknya Lambung Mangkurat untuk mengawini anaknya yang bernama Putri Junjung Buih. Tapi karena merasa ketuaan, Lambung Mangkurat menyuruh anaknya Raden Putera untuk mengawini Putri Junjung Buih.

Raden Putera adalah anak Lambung Mangkurat dari parkawinan dengan Urang Biaju (Dayak Ngaju). Singkat cerita akhirnya Raden Putra kawin dengan Putri Junjung Buih. Sejak saat itu Sri Baginda Kartapala menyerahkan seluruh kekuasaan dan wilayah Tanjungpuri kepada Kerajaan Nagaradipa. Kerajaan Nagaradipa sendiri mengangkat Raden Putera sebagai raja yang bergelar Pangeran Suryanata. Namun ada sesuatu hal yang bergejolak di dalam pemerintahan Nagaradipa, yaitu saling berebut pengaruh antara Imigran Majapahit yang sengaja disusupkan jadi pajabat di Nagaradipa dengan orang-orang Tanjungpuri yang ikut mangabdi jadi pajabat di Kerajaan Nagaradipa. Apalagi setelah para politikus Majapahit mampu mempengaruhi Patih Lambung Mangkurat yang akhirnya memutuskan malarang adat istiadat Melayu dan Dayak di Kerajaan Nagaradipa. Pakaian adat harus mengikuti gaya pakaian orang Majapahit (kelak pada saat perpindahan kekuasaan dari Nagaradipa ke Nagaradaha kebudayan Melayu dan Dayak kembali mendapat tempat di kerajaan).

Mendengar hal tersabut, lima Panglima Tanjungpuri yang sudah tua-tua menjadi berang. Kelima Panglima ini sangat kecewa sekali sebab mereka sudah bersumpah tidak akan tunduk dengan Majapahit. Tapi oleh karena masih menghormati Putri Junjung Buih sabagai cucu Sri Baginda Darmapala, kalima Panglima tersebut mampu menahan diri. Setelah itu kelima panglima ini tidak pernah muncul lagi baik di dunia politik maupun di dunia parsilatan. Mereka masing-masing mengasingkan diri ke Pegunungan Maratus. Para keluarga Kerajaan Tanjungpuri pun terpecah dua, ada yang mandukung Nagaradipa dan ada juga yang tidak. Yang tidak mendukung akhirnya ikut mengasingkan diri ke Pegunungan Maratus di bawah pimpinan Pangeran ke-10 mengikuti para Datu Banua lima. Tempat berkumpulnya para kaluarga Kerajaan Tanjungpuri di Pegunungan Maratus yang di pimpin Pangeran ke 10 adalah Manggajaya.

Melihat hal tersabut Patih Lambung Mangkurat merasa tarancam lalu atas bantuan Majapahit dia mengirim pasukan di bawah pimpinan Hulu Balang Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa ka daerah Batang Tabalong, Batang Balangan, Batang Alai, Batang Hamandit dan Batang Tapin supaya tunduk terhadap kekuasaan Nagaradipa. Kelima wilayah tersabut memang bisa ditaklukan, tapi daerah “Manggajaya” tak ada berani menyerang ke sana karena menurut cerita Lima orang Panglima yang bergelar Datu Banua Lima ada di Manggajaya dan di sana juga bakumpul para keturunan keluarga Kerajaan Tanjungpuri dan Kerajaan Nan Sarunai. Itulah sebabnya kenapa orang-orang pahuluan (Banua Lima) terkenal berjiwa pahlawan sebab masih sebagai keturunan para Panglima Kerajaan Tanjungpuri. Kelak di masa penjajahan Belanda, orang Manggajaya ini yang akan turun membantu Pangeran Hidayatullah bertempur di wilayah Banua Lima. Hal tersebut kembali berulang pada saat masa mempertahankan kemerdekaan, orang-orang Banua Lima ini terkenal sebagai bagian dari pasukan ALRI Div. IV di bawah komando Brigjen Hasan Basri (keturunan Panglima Hamandit).

Tamat.

Sumber : Datu Panglima Alai_Admin FB Group Bubuhan Kulaan Urang Alai Borneo.
Re-publish : Adum M. Sahriadi (Admin FB Group Banua Hujung Tanah dan Bubuhan Jingah Rabit)

About these ads

44 pemikiran pada “Hikayat Datu Banua Lima

  1. Selama ini di SD sampai Perguruan Tinggi sejarah yang ada dominan dari pulau jawa, sedangkan sejarah dari luar pulau jawa seakan-akan sengaja dilupakan kalaupun ada selalu merujuk atau dapat pengaruh dari pulau jawa, saya yakin sekali bahwa dibalik semua itu pasti ada tujuan.

    Contohnya kerajaan majapahit konon katanya pernah menguasai nusantara sedangkan list kerajaan terluas yang diakui oleh international hanya sri wijaya yang ada sedangkan majapahit tidak ada, sungguh ironis sekali padahal dalam sejarah indonesia majapahit katanya lebih luas wilayahnya dari majapahit.

    • Benar sekali Mas Jufri. Memang ambisi Majapahit yg ingin menguasai nusantara yang diperhalus menjadi ‘mempersatukan nusantara’ tidak hanya di bidang politik dan kekuasaan, tapi juga di bidang sastrawi. Menurut analisis yang saya lakukan pada Hikayat Banjar, baca di Mungkinkah Hikayat Banjar dikarang oleh orang banjar?, menunjukkan bahwa terdapat banyak hal-hal yang tidak masuk akal dengan budaya Banjar asli itu sendiri. Makasih tanggapannya, salam kenal!

  2. Termasuk sejarah Kesultanan Banjar konon katanya masih terpangaruh dari jawa, seakan-akan kalimantan sangat primitif sekali, sedangkan kita tahu bukti yang di akui bahwa kalimantan pada abad ke – 4 M sudah berdiri kerajaan sebelum di pulau jawa berdiri kerajaan, secara logika dapat di pahami kalau peradaban di kalimantan sudah lebih maju dari pulau jawa,

    • Saya sangat sependapat. Memang kebudayaan asli orang banjar terpengaruh kebudayaan jawa, tapi kebudayaan kerajaan terdahulu sampai sekarang masih melekat kuat di suku dayak yang mengisi pegunungan meratus. mereka telah bersumpah utk tidak memakai adat majapahit sbg peraturan hidup, sehingga mereka lbh memilih menjauh dan tinggal di pegunungan meratus daripada bergabung bersama Nagara Dipa

      • Salam kenal jua matan ulun, ulun ni jua badarah banjar, jar kai ulun kami banjar pahuluan, ulun lahir di Kabupaten Berau Kalimantan Timur, Terima kasih sudah membuat blog ini…

  3. Assalamu’lakum wr. wb.

    Tulisan pian tentang sejarah,cerita urang banjar sangat menarik, memang kita harus terus menggali sejarah banjar yang banyak dilupakan oleh urang banjar itu sendiri . maaf saya punya pendapat yang berbeda dengan mas jufri tentang pengaruh suku jawa terhadap suku banjar, memang hubungan antara urang banjar sebelum islam dengan majapahit adalah kurang harmonis, hanya saja ketika majapahit almarhum, dan terbitlah kerajaan demak, hubungan itu terjalin sangat harmonis, dan peran kerajaan demak, dalam terbentuk kerajaan banjar sangat besar, kita perhatikan bahwa masjid sultan suriansyah adalah mirip dengan masjid di demak, sedangkah rumah adat banjar adalah lebih mirip rumah betang (dayak), bahasa dll, kita juga mengetahui panglima kerajaan banjar ada yang suku melayu dan ada yang suku dayak, raja banjar sultan suriansyah adalah keturunan kerajaan majapahit dan dayak,…justru saya berpendapat , gabungan 3 suku ini menjadikan nilai peradapan banjar itu tinggi,
    hanya saja disayangkan sekarang hubungan urang banjar terasa kurang dengan urang dayak,….
    padalal kita satu darah/gen,…inilah yang harus kita bina lagi agar sejarah masa lalu yakni nilai nilai persaudaraan yan tinggi antar banjar dan dayak makin erat, seperti yang dilakukan oleh raja raja banjar, syekh muhammad arsyad, para panglima dayak….dll

    SALAM KENAL

    ISEN MULANG, WAJA SAMPAI KAPUTING (PANTANG MUNDUR, SAMPAI TITIK DARAH PENGHABISAN)

    • Waalaikumsalam wr.wb

      menarik sekali apa yang pian amati.
      Betul sekali, memang keberadaan kesultanan banjar itu kembali harmonis setelah pertolongan demak (islam). Persaudaran dayak, banjar, dan jawa (islam) sangat mewarnai sendi2 kehidupan rakyat. Sebelumnya juga, tata cara adat dayak kembali mempunyai tempat ketika terbentuknya Nagara Daha, itu terjadi jauh sebelum adanya kesultanan banjar. Cuma ketika masuknya org Keling (yg pada akhirnya menjadi nagara dipa) sangatlah tidak bersahabat dgn penduduk lokal. Sendi2 kehidupan diganti dgn adat istiadat majapahit.

      Kedua, kisah ini merupakan kisah versi dayak, dan sangat jauh berbeda dari Hikayat Banjar, terutama dari sisi silsilah keturunan dan alur ceritanya. dan saya sendiri termasuk pendukung cerita ini. Kalau dalam hikayat banjar, tampaknya seakan ada penjajahan secara sastra, dan banyak unsur2 yang seakan2 dipaksakan. silakan baca ringkasan Hikayat Banjar atau Nagara Dipa dlm blog ini.

      Terlepas dari itu semua, wallahul alam

      OK salam kenal, makasih dah mau berkunjung, Salam Budaya

  4. Maksud ulun bukannya membenci etnis jawa, etnis jawa selama ini tidak pernah bertentangan dengan etnis banjar, namun dalam hal ini coba kita kembali menelaah sejarah majapahit yang diproklamirkan oleh Muhammad Yamin yang disahkan oleh Soekarno, tentunya banyak yang janggal dalam alur cerita, sampai-sampai patung gajah mada yang di buat menyerupai wajahnya Muhammad Yamin.

    Kalau tidak salah baca, Sejarah Majapahit dibuat digunakan untuk alasan ganyang malaysia dan klaim nusantara dibawah kekuasaan penguasa jawa walaupun diperhalus menjadi pemersatu.

    Dan ahli sejarah banyak yang meragukan kalau Majapahit pernah melebarkan sayapnya sampai keluar pulau jawa, bagaimana mungkin bisa menaklukkan nusantara pajajaran saja tidak bisa di taklukkan. Kalau benar majapahit pernah menaklukkan nusantara, berapa armada tempur yang dimilikinya, berapa waktu yang diperlukannya, jika alasan kesaktian gajahmada begitu tinggi memangnya orang-orang di luar pulau jawa tidak ada yang sakti, belanda saja menaklukkan nusantara butuh waktu sekitar 300 an tahun.

    Ahli sejarawan baik lokal maupun international banyak yang mempertanyakan kebenaran sejarah majapahit.

    Menurut ulun kenapa ahli sejarawan yang pro M. Yamin hanya merujuk pada Kitab Negara kertagama.

    • Kalau begitu alur cerita/berpikir bang Jufri, berarti sama dengan pendapat saya. Cerita ini pun sebenarnya penentangan terhadap hikayat Banjar yg kemungkinan besar juga merujuk ke kitab negara kartagama. Cerita ini murni budaya tutur rakyat pedalaman, tidak spt Hikayat Banjar (tertulis). Dan pertanyaannya: Benarkah Hikayat Banjar dibuat oleh orang Banjar, ataukah oleh sastrawan Jawa (Majapahit)?

      Hal tersebut serupa dalam artikel di dlm blog ini “Benarkah Hikayat Banjar dibuat oleh orang Banjar”

      Makasih masukan dan tanggapannya, mari kita terus selami sejarah banjar ini meski lewat cerita2 yang penuh dg mitos, karena ada satu kaidah sastra: bahwa kehadiran sastra merupakan cerminan dari zaman tersebut….

  5. Pembahasan ini cukup menarik yakni hubungan antar suku (jawa, banjar,dayak,dll) Jika membaca sejarah , pertentangan antara suku, baik itu suku jawa dengan suku jawa, dayak dengan dayak, banjar dengan banjar, akibat politik ekonomi bahkan sampai masalah perempuan (tragedi jawa dan sunda yang berdampak pada hubungan antar 2 suku tersebut), yang terbaik diantara kita mengambil hikmah dari semua itu, dan bagaimana menyikapi dengan benar, menjalin harmonisasi antar suku di indonesia,
    Maaf, ibu saya orang kelua, sedangkan ayah asli sampit, dan tentunya saya juga dulu tinggal disampit, yang menjadi keprihatinan saya adalah, adanya hubungan yang kurang harmonis antara suku banjar dan suku dayak, diantaranya akibat politik, dimana sudah rahasia umum terjadi persaingan yang cukup kuat antar banjar dan dayak, ….saya tidak bermaksud memasukkan pembahasan ini dalam wilayah politik, hanya saja saya berharap kedepan bagaimana kita , Bang Adum, Bang Jufri,dll, bisa memberikan pandangan ,tulisan yang membuat hubungan antar dua suku ini banjar dan dayak(satu darah), bisa lebih erat ,

    HABARING HURUNG, KAYUH BAIMBAI
    (HABARING HURUNG : GOTONG ROYONG=MOTTO KOTA SAMPIT, KAYUH BAIMBAI : GAWI BERSAMA :MOTTO : KOTA BANJARMASIN )

    • Ok bang Kahfi. Wah kebetulan sekali Aku asli urang kelua. Semoga pandangan2 kkawanan bisa menambah harmonisasi etnisitas diantara ketiganya. Setiap pembicaraan yang berkaitan dg Ranah politik pasti menimbulkan ketegangan. karena mau tidak mau kita harus mengakui bahwa ada tujuan dan persaingan di dalamnya. Eh pernah ke kalua kah pian?

  6. maaf hanyar tabuka, blog pian nah , ulun kawan pak sarwani , ulun begawi di SMK ANNoor, asalnya di smkn 1 muara uya minta pindah lawan dinas, handak mangbdi dibanua kawitan, sekarang tinggal ditanjung,.., .., saharusnya di buku tamu pang menenalkan diri ngran ulun M.firdaus Al-Kahfi,…

    mun kawa pian angkat jua cerita urang kita yang jauh merantau , karena setahu ulun , bubuhan kita ni (banjar) , tersebar di medan,riau, jambi, dijakarta, jawa tengah,malang surabaya, NTB, sulawesi utara, maluku, malaysia, mekkah,dll ..bahwa urang kita sebenarnya perantau dan punya adat yang baik dinegeri urang …balum lagi dikalimantan ya kalo,..

    kada papa kita babeda pandapat, baik lawan pian, atu daksanak jufri,…asal tetap menjaga etika,

    BANJAR MAJU TARUS

    • Oh iyakah. Salam ja gasan kakawanan di Annor, aku sumalam bakas di situ juwa. Setidaknya dengan dgn adanya perbedaan pendapat, kita ada perhatian terhadap sejarah kita. Wah, kalau untuk mengekspos cerita ttg eksistensi bubuhan banjar di banua urang, saya sangat minim data. mudah2han kakawanan yang masuk blog ini bisa menambahkan. Kalau pian, tahu cerita ttg datu kalua, tolong buat kisahnya, dan kirim ke blog ini atau emel ke aku, adumkla@gmail.com

  7. Curhat kisahnya nih….

    Assalamualaikum….

    ulin ini tia muyak mandangar bubuhan jawa mun bapandir pina inya ha pahaharatnya, suah rancak banar handak tajagulku. napalih pina garigitan aku mandangar.

    nintupang maka aku bacari habar sajarah padatuan kita, mun jar kai ulun dasar sama wan hikayat datu banua lima intinya lih, tagal disakulahan cakadada samanya nang dilajarakan guru, wahini tahu jua am mana nang bujur wan kadanya.

    naham tapandir jua aku disini. cuba parhatikan di banua parantauan ni jawa kada pang harat tapi bapulitik nang harat, makanya kita sabarataan dipulitikinya.

    sahama-hama kadada niat handak aku handak baingaran, tapi dasar bubuhannya badahulu nang maulah sual.

    haram manyarah waja sampai kaputing.

    Assalamualaikum lagi……

    • @JUfriansyah
      Ha ha ha, bisa haja nih. Kadapapa bang ae, kada sunyaan ja kaitu. buhannya toe khabisan pamakan di sana (dipulau aslinya). Pokoknya slama buhannya masih mnghormati adat istiadat wan mau gawi basamaan, maka akur am. Tapi bila sudah tarumpak adat wan handak bakuasa, maka jar pian jua,
      haram manyarah waja sampai kaputing.

  8. http://www.e-borneo.com/cgi-bin/np/viewnews.cgi?category=1&id=996543727

    Mengenal sejarah keberadaan Dayak Pitap (Kalimantan)

    By Haikal Maserani

    Suku Dayak yang tersebar di Kalsel terbagi dalam beberapa kelompok besar. Mereka mendiami pegunungan antara lain di wilayah hulu sungai dan daerah yang berbatasan dengan Kalteng.

    Dari sekian banyak masyarakat Dayak di wilayah Banua Lima, salah satunya adalah Dayak Pitap. Kelompok ini tersebar pada daerah pegunungan di Kecamatan Awayan.

    Keberadaan masyarakat Dayak Pitap tidak lepas dari masyarakat Dayak lainnya di wilayah hulu sungai atau yang biasa disebut Banua Lima.

    Dari namanya, Pitap adalah nama wilayah pegunungan di Kecamatan Awayan Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Nama tersebut diambil dari nama seorang datuk kepala adat di pegunungan Awayan. Sebutan Pitap telah ada sebelum hadirnya bangsawan Keling atau yang biasa disebut Empu Jatmika.

    Konon Empu Jatmika dikenal sebagai pendiri Negara Dipa di bumi Kahuripan Batang Balangan yang sekarang termasuk dalam wilayah Kabupaten HSU.

    Pada waktu itu, pasukan Empu Jatmika berkunjung ke wilayah Dayak Pitap. Datuk Dayak Pitap menyambut dengan baik kedatangan pasukan tersebut dan menyatakan bersedia untuk bergabung dengan wilayah Negara Dipa.

    Budaya adat istiadat masyarakat Dayak Pitap dipimpin oleh seorang datuk yang berfungsi sebagai kepala adat. Pada umumnya, mata pencaharian masyarakat adat Dayak Pitap bercocok tanam.

    Meskipun terkenal sebagai peladang berpindah, hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga kesuburan lahan pertanian. Antara warga yang satu dengan yang lainnya hidup dengan rukun, tanpa ada suatu pertentangan.

    Bahkan terbentuknya berbagai daerah di Banua Lima juga berasal dari leluhur Dayak Pitap. Konon, sewaktu makan buah padi yang diselingi dengan makanan buah jelai yang dibakar, datuk kepala adat yang bernama Datuk Mahdanio mengumpulkan empat datuk keturunannya.

    Kelima datuk tersebut berkumpul di Gunung Canting Langit (berada di wilayah Desa Nungka,red). Datuk Mahdanio memberikan petuah sebelum meninggal dunia.

    Petuah Datuk Mahdanio berupa pertanyaan yang mempunyai makna, siapa yang ingin mewarisi keberanianku maka akan kuhajatkan pada sang pencipta. Secara cepat pertanyaan disahut oleh Datuk Hamandit. “Aku yang turun ke Batang Hamandit (sekarang HSS).”

    Siapa yang ingin mewarisi kepintaranku untuk memimpin, akan kuhajatkan pada sang pencipta. Secara cepat pertanyaan disahut oleh Datuk Balangan, “Aku yang akan turun ke Batang Balangan (sekarang HSU).”

    Siapa yang ingin mewarisi keafiatanku akan kuhajatkan kepada sang pencipta. Secara cepat disahut oleh Datuk Alai, “Aku yang turun ke Batang Alai (sekarang HST).

    Siapa yang ingin mewarisi tuahku, maka akan kuhajatkan kepada sang pencipta. Secara cepat disahut Datuk Bolanang Alai, “Aku yang turun ke Batang Alai Selatan (sekarang Tapin).

    Sebelum mengakhiri petuahnya, Datuk Mahdanio sambil mengunyah sirih mengungkapkan nasehat lima kunci kehidupan, yakni bersikap jujur, hidup rukun, menghargai orang lain, berprasangka baik dan berani karena benar.

    Hingga akhirnya, keempat datuk turunan Datuk Mahdanio tersebut turun dari wilayah Dayak Pitap menuju berbagai penjuru. Dan selanjutnya memulai kehidupan di daerah baru tersebut, sehingga terbentuklah daerah-daerah yang ada di Banua Lima.

    • @Kamal Ansyari
      Menarik sekali tulisan sampiyan. Oh ya, sekadar info, sekarang balangan (paringin) secara administratif sudah memisahkan diri dari Kab. HSU. Mereka sudah membentuk kabupaten sendiri.

      Cerita yang sampiyan sampaikan itu sesuai dengan alur cerita pada Hikayat Banjar dan Tutur Candi, tapi ini tentang Hikayat Datu Banua Lima merupakan alur terbalik (paradox) dengan cerita itu. Versi cerita ini pun merupakan tutur dari masyarakat kita, yang menyatakan bahwa batang balangan telah diserang oleh Negara Dipa. Tapi kalau versi Hikayat Banjar, batang balangan ikut bergabung dengan Negara Dipa dan memberikan upeti kepada Negara Dipa.

      Namun pada sisi lain, kebenaran sejarah pada kedua versi cerita ini masih ditangguhkan, sehingga masih berwujud fiksi belaka, sebagaimana karya sastra lainnya. Tapi mungkin dari situlah kita harus memulai penelusuran keberadaan urang-orang asli banua kita, yang menurut para sejarawan dimulai dari eksudus besar2an dari China. Bisa dibaca di “Sejarah Kehidupan Di Tanah Banjar’ pada blog ini.

      Terimaksih infonya ttg eksistensi Suku Dayak Pitap di blog ini. Salam Budaya

  9. Mun kawa kita bacari matan banua kita haja dasarnya, jangan matan luar, kada pang baprasangka, tapi mun matan banua kita apalagi matan urang tatuha-tatuha nang balum banyak kana pangaruh apalagi sejarah matan luar nintu labih baik hagan dijadi akan bahan parbandingan.

    • Hi ih sanak ae. di blog ini manampilakan kisah dari barbagai versi. ada nang matan luar, ada juwa nang asli matan banua kita.

      kita bisa mambandingakannya juwa, cuba bacai kisah2 di blog ini. ambil kategori Banua Hujung Tanah wan Sejarah Banjar

  10. Umpat batakun tanggal 4 april ni dibanjar ada kongres budaya banjar, ada acara seminar atau diskusikah, mun ada kaya apa umpatnya, adakah pendaftaran peserta ?

    alkahfi albanjari,

    • Ada banar, tanggal 5-7 April ada Diskusi Budaya Banjar, tempatnya di Hotel Banjarmasin International (HBI). Mun kawa capati dangsanakai labuh ka Banjar, kena kehabisan formulir pendaptaran. Tapi acaranya 3 hari pang. Jd mun kada dapat nang hari pertama, hari kadua atawa katiga barang.

      Aku sumalam minta daftarkan lawan kawan.

  11. Anang tu asal kata lanang (jawa)
    Galuh to bahasa sunda/jawa
    diva tu asal kata jawa diva
    tumenggung tu asal jabatan urang jawa….
    iya kada

  12. Assalamu’alaikum. Salam banua dari Tim Lekstur. Menarik sekali blog banuahujungtanah ini, sarat info sejarah budaya dan masyarakat Banjar yang terlihat tidak hanya puas dengan versi konvensional, tetapi berani dan mau konsen tuk mendalami versi-versi alternatif yang bersifat lokal pribumi dan masih banyak belum terangkat serta terapresiasi secara wajar. Kami dukung upaya pian untuk mengangkat historiografi Banjar versi banua. Hikajat Bandjar yang ada sekarang sebenarnya juga 2 versi, ada versi Hindu dan ada versi Islam. Keduanya meski berbeda dalam penonjolan masalah agama tetapi tampak sama dalam penonjolan masalah etnik, yaitu tampak jawa sentris. Kami berharap historiografi Banjar versi banua ini akan mampu menjadi draf utama bagi revisi buku Sejarah Banjar terbitan Balitbangda Kalsel 2003 yang masih belum begitu sistematis itu. mohon izin kami upload ke blog kami. terima kasih. Wassalamu’alaikum.

    • Waalaikum salam
      Terima kasih Tim Lekstur mau berkunjung. Silakan di co-pas isi dari blog ini, karena misi dari blog ini sendiri adalah untuk membagikan kisah-kisah orang2 terdahulu di pulau borneo kepada generasi muda yang dari zaman bangku sekolah hanya disuguhi kisah-kisah dari luar, hingga mereka tercerabut dari akar tradisi dan budaya sendiri.

      Blog ini pada dasarnya adalah menghimpun tulisan teman-teman yang bertebaran sana sini tanpa ada dokumentasi yang jelas.

      Semoga dengan adanya perhatian dari kalangan akademisi dan peneliti2 luar yang berminat dengan budaya, sejarah, dan bahasa banjar, menjadikan kita lebih arif menyikapi wasternisasi yang
      semakin gencar manghancurkan budaya2 lokal.

      Salam Budaya

  13. selama ini kita hanya mendengar kehebatan majapahit dan sumpah palapanya gajah mada yg sampai saat ini saya ragukan legendanya karen sesungguhnya isu tersebut merupakanj propaganda soekarno utk mendukung revolusi kemerdekaan jadi sebetulnya hal ini hanya isapan jempol belaka

    • Makasih masukannya friend. Ya, hampir semua daerah di luar jawa, sastranya terpengaruh kebesaran kerajaan majapahit, tapi dari versi penduduk asli, sedikit banyaknya pasti berlawanan

      salam budaya

  14. Talu = Tiga bahasa banjar
    Tilu = Tiga bahasa sunda
    Telu = Tiga bahasa Bugis
    Telu = Tiga bahasa Jawa
    Tigo = Tiga bahasa jawa
    Pitu = Tujuh bahasa bugis
    Pitu = Tujuh bahasa jawa

    Manakah yang mempengaruhi dan manakah yang dipengaruhi …….. ????

    • Bahasa Dayak Bakumpai
      Ije=satu
      duwe= dua
      telo=tiga
      epat=empat
      lime=lima
      jihawen=enam
      uju=tujuh
      hanya=delapan
      jeletien=sembilan
      sapuluh=sepuluh

      entahlah yg mana mempengaruhi, yg jelas semuanya saling memberi pengaruh. tinggal kita selidiki eksistensi awal keberadaan suku tersebut

  15. Antara Banjar dan Dayak mudah-mudahan ingat bahwa mereka adalah satu gen dan keturunan yang sangat dekat alias masih karib kerabat dan jangan sampai di adu pihak luar untuk memecah belah kekeluargaan atau persatuan.

    • Iya, mudah2an dayak dan banjar masih memegang kearifan lokal seperti pada cerita datu dayuhan dan intingan. nanti akan terbit ceritanya, bagaimana kehidupan kedua datu tersebut sbg gambaran keakraban dayak-banjar

  16. Butuh = Kemaluan laki-laki (bahasa banjar)
    Butuh = Perlu (bahasa jawa)
    Pacul = Lepas (bahasa banjar)
    Pacul = Cangkul (bahasa jawa)

    “butuh pacul” bahasa banjarnya apa ?
    “butuh pacul” bahasa jawanya apa ?

    Abah = Ayah (bahasa banjar)
    Bapa = Ayah (bahasa jawa)
    Uma = Ibu (bahasa Banjar)
    Simbo = Ibu (bahasa jawa)

    Banyak lagi bahasa yang sama ucapan namun beda artinya, atau sama ucapan dan sama artinya mungkin itulah kita disebut masih serumpun tapi untuk saling pengaruh mempengaruhi yang terlihat janggal dan perlu di kaji ulang, tidak memungkiri bahwa kita pasti saling pengaruh mempengaruhi namun harus ada literatur yang jelas dalam prosesnya tidak mungkin yang mempengaruhi hanya salah satu sub suku saja pastilah melibatkan banyak sub suku lainnya.

    • Memang dalam sejarahnya pulau kalimantan ini dihuni oleh
      1. suku awal adl org2 cina kuno (dayak)
      2. urg jawa (Nagara dipa-nagara daha)
      3. Melayu (banjar)

      jadi dari tiga hal tesebut menjadikan khasanah keanekaragaman bahasa yg ada dkalimantan.
      coba kita lihat kata-kata banjar berikut, apakah ini tepengaruh bahasa cina kuno

      Lulungkang
      tawing
      tihang
      basingsing
      piring sing
      dll

  17. bagus banar tulisan pian ni! Banyak urang wayahni kd tahu kisah orang bahari, kaya diwadah ulun dikalteng ni urang banjar wan dayak di adu urang. Malah ada anggapan urang banjar kaya penjajah nang katuju manguasa’i tanah urang dayak, pas pamilukada tadi ada calon nang katurunan banjar disambat handak maulah kalteng jadi jajahan urang banjar!! Mudahan dengan adanya tulisan pian bisa mempersatukan banjar & dayak nang kaya intingan lwn sindayuhan!!! Amiiiiinnnn….

  18. wayahini gin katurunan buhan majapahit masih manjajah kita, dan buhan banua lima haja nang masih ada rasa kd katuju lawan buhannya tu, hidup borneo… Tanah air leluhurku nang terjajah baik sdm atau sda nya, habis batu bara kita diangkut urang

    • Mba Mitha

      Asal ceritanya dari daerah selatan borneo (Sekarang tepatnya Kalimantan Selatan)

      Itu sudah diringkas sedemikian rupa, daripada baca Hikayat banjar yg ribuan halaman.

      Karena ini hikayat, jd di situ sebenarnya ada Legenda (Asal usul banua lima), mite (karena bercerita tentang kesaktian2 para panglima kerajaan), dan di dalamnya tidka ditemukan fabel, karena tak satupun adegan binatang yg bisa menyerupai dan atau berbicara seperti manusia. Seandainya tidak diringkas, cerita ini juga termasuk sage

      Makasih atas kunjungannya

  19. Ada nang tahu hikayat Tumenggung Mat lima lawan Tumenggung Antaludin lah? Karena ulun juriatnya ( dari Kandangan ). Ulun jua juriat dari Brig. Jend. H. Hasan Basri. Lalu apa kaitannya antara Tumenggung yg bedua tadi lawan Datu Hamandit ? Mohon informasinya. Terima kasih.

  20. Ping-balik: Tabalong Bumi Sarabakawa « ourborneo

  21. Baca juga cerita rakyat dari jawa tengah bahwa penduduk jawa tengah berasal dari teluk sampit kalimantan selatan (dulu di kenal dengan nusa brunei), mereka berlayar meninggalkan kalimantan karena di serang wabah penyakit dan menurut keyakinan mereka harus menyeberang lautan meninggalkan daerah tersebut agar terhindar dari wabah dan kelompok itu di pimpin oleh ki seng dang, dan terjadi sebelum masehi, setelah itu mereka menamakan tanah itu tanah jawi dan mereka adalah wong jawi (orang jawa).

  22. Kata jawi di ambil dari nama banteng betina, keling di duga bukan dari kediri tetapi India keling = kelingga, kediri kalah dengan serangan pasukani mongol dan di bantu aliansi kerajaan tanah jawa yang sakit hati dengan kediri, majapahit didirikan oleh raden wijaya menantu raja singosari, setelah singosari kalah dengan kediri, candi yang katanya di bangun oleoh ampu jatmika bahkan sudah ada sebelum masa kedatangan empu jatmika (menurut tahun perhitungan dengan karbon).

    Hampir sama nasib sulawesi yang di klaim di bawah majapahit oleh orang jawa tetapi di catatan ila galigo tidak ada sama sekali tentang peperangan dengan pulau jawa atau adanya pembayaran upeti ke jawa.

    sudah sewajarnya budaya saling pengaruh mempengaruhi tetapi sangat tidak wajar kalau asal klaim sepihak.

    Belanda mengaku pernah menaklukkan nusantara (indonesia).
    Indonesia mengakui pernah di taklukkan belanda.

    Bagaimana dengan amerika yang dalam filmnya si Rambo amerika, Rambo amerika mengalahkan vietnam, padahal faktanya amerikalah
    yang kalah.

    wah nanti disebut orang ngaku-ngaku aja alias sok ngaku.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s